Pembersihan Diri saat Banyu Pinaruh
- 14 Jul 2024 12:41 WIB
- Denpasar
KBRN Denpasar : Sehari Pasca Hari Raya Saraswati, yakni Redite atau Minggu Pahing Wuku Sinta, disebut Hari Suci Banyu Pinaruh, yang memiliki makna fholosofi, bahwa ilmu pengetahuan itu dialirkan bagaikan banyu (air) kemudian menyejukan manusia, sehingga manusia harus mendalami, pinauruh ilmu itu.
Pada hari ini, umat biasanya melakukan pembersihan diri dengan mandi dan keramas di tempat suci, seperti di danau, laut, campuhan (pertemuan sumber air yang berbeda) dan pancoran (mata air yang mengalir).
Banyu Pinaruh terdiri dari dua kata banyu berarti air dan pinaruh berarti keweruhan, yang berarti ilmu yang turun kemarin (pada Hari Saraswati) dialirkan ke semua pihak dan dijabarkan ke semua orang.
Ilmu Pengetahuan yang telah diturunkan, jika dikembangkan akan semakin berkhasiat. Namun, kalau hanya sendiri akan tidak bermanfaat. Semua itu diimplementasikan dengan membersihkan diri dari segala kotoran, sehingga ilmu itu masuk lebih mantap. Mata air itu diibaratkan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang mengalir.
Pada pelaksanaan Banyu Pinaruh hari ini, Minggu 14 Juli 2024, seperti tahun sebelumnya, umat Hindu di Bali datang ke sumber mata air atau pantai setempat untuk melaksanakan ritual pembersihan diri pada pagi hari sebelum mengawali kegiatan. Sejumlah pantai yang ada di Bali menjadi langganan tempat melakukan ritual tersebut, seperti Pantai Masceti, Pantai Lebih, Pantai Watu Klotok, Pantai Sanur dan pantai lainnya.
Beberapa tempat lainnya yang menjadi tujuan saat upacara Banyu Pinaruh adalah kawasan air terjun, pancoran, tukad dan banyak lagi tempat lainnya yang dianggap suci. Dimana masyarakat, datang bersama keluarga dan juga anak-anak untuk melakukan pembersihan diri.
Banyu Pinaruh tersebut bertujuan untuk membersihkan diri kita baik lahir maupun batin, melakukan ritual mandi di sumber air suci atau pantai yang diharapkan bisa melebur Dasa Mala semacam sepuluh sifat kotor pada diri manusia, kemudian menyucikannya dengan ilmu pengetahuan sehingga kita bisa dibebaskan dari lautan kebodohan serta dosa, agar memperoleh kekuatan serta kemampuan untuk menyongsong tantangan di hari-hari selanjutnya.
Nasi Bira menjadi hidangan yang disajikan atau dinikmati setelah melakukan prosesi banyu pinaruh. Prof. Dr. I Ketut Sumadi, M.Par, selaku guru besar pada bidang Ilmu Pariwisata Budaya danAgama, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, dalam kanal youtube Swaha Bali Media mengungkapkan, Nasi bira atau yang juga dikenal dengan nasi pradnyan menjadi sebuah simbol anugerah ilmu pengetahuan dengan harapan Ilmu pengetahuan yang dipelajari dipelajari dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Nasi Bira, pada umumnya berwarna kuning dengan berbagai macam lauk, disertai kacang saur, telur, daging ayam, mentimun terung. Nasi ini mirip nasi yasa, sehingga tidak jarang juga disebut dengan nasi Yasa Saraswati. Menyantap Nasi Bira bersama keluarga, menjadi acara penurup ritual Banyu Pinaruh. (I Putu Adi Sutirta)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....