Panen Perdana Pertanian Ramah Lingkungan di Desa Temesi

  • 11 Okt 2022 17:17 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Gianyar: Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, menjadi yang pertama melakukan panen beras sehat dari enam desa percontohan proyek Pertanian Cerdas di Kabupaten Gianyar.

Dari tes pengubinan pada Selasa, (11/10/2022), lahan percontohan Pertanian Cerdas di Subak Temesi menghasilkan gabah kering panen sebanyak 4,5 kg per 1/16 are, atau diperkirakan setara 7,2 ton/hektar.

Tes pengubinan dilakukan tim BPP Kecamatan Gianyar yang dipimpin I Made Geben, disaksikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gianyar dan perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar.

Dengan hasil pengubinan tadi bisa diperkirakan bahwa bobot panen termasuk tinggi dan tingkat padi bernas mencapai 96%.

“Meskipun baru musim tanam pertama, budidaya padi dengan teknik pertanian ramah lingkungan sudah baik dan masih dapat ditingkatkan dengan optimalisasi jarak tanam,” kata Made Geben.

Dari tes pengubinan terdapat rata-rata 98 rumpun dalam 1/16 are dengan jumlah ideal 121 rumpun. Masing-masing rumpun terdapat 20 anakan tiap tanaman padi dari jumlah ideal 23 anakan.

Adapun Hasil budidaya padi Made Sutaba (68) dari Subak Temesi menghasilkan 230 biji gabah per malai dari jumlah ideal 280 biji gabah per malai.

Di musim pertama praktik pertanian ramah lingkungan ini, Made Sutaba melakukan pengurangan pemakaian urea hingga 80%. Beliau hanya menggunakan urea sebanyak 10 kg untuk lahan 25 are yang dikelolanya, jauh berkurang daripada jumlah yang dianjurkan sebanyak 200 kg/hektar. Di musim berikutnya, Made Sutaba akan berhenti menggunakan pupuk kimia. Selain itu, beliau juga menerapkan penggunaan agen hayati serta pestisida nabati.

“Kami sampaikan terima kasih untuk Yayasan Bumi Sasmaya yang telah menjadikan satu hektar lahan di Desa Temesi sebagai percontohan pertanian ramah lingkungan. Harapannya, di tahun depan pertanian organik di Desa Temesi dapat berkembang,” kata Perbekel Temesi I Ketut Branayoga, ketika membuka acara pengubinan.

Pertanian Cerdas meminimalisir penggunaan pupuk kimia untuk mendukung transisi petani menuju sistem pertanian organik. Proyek Pertanian Cerdas (Circular Economy Development in Organic Agriculture) diinisiasi Marcellinus Mandira Budi Utomo (BRIN), Hermitianta Prasetya Putra (Yayasan Bumi Sasmaya), dan Levina Pieter (BRIN) dengan mengintegrasikan program pengelolaan sampah Merah Putih Hijau dengan sistem pertanian organik.

Potensi produksi kompos dari program pengelolaan sampah Merah Putih Hijau di enam desa di Kabupaten Gianyar langsung disalurkan untuk memenuhi kebutuhan penyubur tanah pertanian.

“Kami harap program pertanian ini utuh dari hulu sampai ke hilir. Untuk pemanfaatan pupuk organik (kompos) sudah, praktik pertanian ramah lingkungan sudah, yang terakhir kami mohon untuk menciptakan pasar untuk produk petani. Kalau tidak ada pasar, petani akan kembali lagi ke pertanian konvensional,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Gianyar, I Gusti Ayu Dewi Hariani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....