Fakta El Nino dan Dampaknya bagi Bali

  • 14 Sep 2023 20:46 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena El Nino berpotensi berlangsung hingga awal 2024 mendatang. Puncak fenomena El Nino yang berlangsung pada Agustus-Oktober 2023 berpotensi memicu cuaca panas ekstrem dan berdampak pada kemarau panjang karena berkurangnya curah hujan.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah III Denpasar, Nyoman Gede Wiryajaya kepada RRI menjelaskan El Nino merupakan fenomena global yang terjadi hampir di seluruh negara di garis ekuator, salah satunya Indonesia. El Nino disebabkan oleh meningkatnya suhu permukaan laut (sea surface temperature/SST) di pusat Samudera Pasifik. Fenomena ini juga terjadi dengan periode berulang.

“El Nino ini kan suatu fenomena yang bersifat global namun dampaknya kita rasakan secara bervariasi di masing-masing wilayah. Saat ini El Nino itu statusnya masih moderat, belum kuat artinya masih menengah. Ini masih kita pantau terus. Dampaknya ya berkurangnya curah hujan dari kondisi normalnya. Makanya kita sering berpikir sudah musim kemarau, berkurang lagi musim hujannya. Jadi kering sekali,” kata Wiryajaya.

BMKG memprakirakan El Nino berlangsung hingga awal tahun 2024 mendatang.

"Dari permodelan kita lihat setelah bulan-bulan ini, September kemudian Oktober perlahan nanti akan menurun terus, melemah. Kemudian masuk ke lemah. Dan kita harapkan setelah bulan Maret April sudah mulai normal," imbuhnya.

Subkoordinator Subbidang Pelayanan Jasa BBMKG Wilayah III Denpasar, Tirta Wijaya dikonfirmasi terpisah menambahkan faktanya, perubahan iklim yang disebabkan oleh El Nino dapat berdampak positif dan negatif. Dampak positif yang dirasakan masyarakat dari El Nino diantaranya di sektor pergaraman, potensi panen garam cukup melimpah saat musim kemarau. Para nelayan juga diuntungkan dengan meningkatnya hasil tangkapan ikan saat cuaca kondusif. Di sisi lain, El Nino juga berpotensi memicu kekeringan dan kemarau panjang di sejumlah wilayah.

“Publikasi Ilmiah menunjukkan bahwa dampak El Nino terhadap iklim di Indonesia itu terasa semakin kuat jika terjadi di musim kemarau tentunya. Fenomena El Nino ini membawa dua dampak ternyata. Dampak negative sudah pasti ada. Kekeringan pasti berdampak ke ketersediaan air bersih. Kemudian sektor ketahanan pangan, berpotensinya kegagalan panen. Kemudian terakhir ini juga meningkatkan resiko kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.

Menyikapi dampak negative El Nino yang memicu kemarau menjadi lebih kering dari kondisi normalnya, BBMKG Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini kekeringan di 14 kecamatan di Bali karena sudah tidak turun hujan lebih dari 70 hari. Wilayah tersebut tersebar di 5 Kabupaten yakni Buleleng, Tabanan, Bangli, Karangasem, dan Badung. Kecamatan Kubu, Karangasem bahkan memegang rekor tertinggi dengan tidak turun hujan selama 123 hari. Menyikapi peringatan tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air serta melakukan panen air hujan di penampungan saat turun hujan.

"Bagaimana mitigasi bagi masyarakat? Ketika terjadi hujan tentunya masysrakat perlu melakukan panen hujan. Nah di musim kemarau ini jangan kira tidak ada hujan, tapi memang intensitasnya yang kecil. Nah ini bisa dipanen oleh masysrakat dan dikumpulkan di tempat penampungan. Masyarakat juga perlu berhemat dan bijak dalam menggunakan air," imbaunya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....