Pijat Tuina sebagai Terapi Komplementer Percepatan Penurunan Stunting
- 04 Okt 2026 12:20 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Upaya mempercepat penurunan stunting di Bali tidak hanya dilakukan melalui intervensi gizi. Tim Peneliti Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar memperkenalkan pijat Tuina sebagai salah satu terapi komplementer yang dipadukan dengan edukasi gizi dan latihan psikomotorik bagi balita yang mengalami stunting dan masalah gizi.
Pengenalan metode tersebut dilakukan melalui kegiatan penyegaran kader Posyandu yang digelar secara berturut-turut selama lebih dari sebulan di empat desa lokasi khusus stunting, yakni Desa Bajera Utara, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan; Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung; Desa Batubulan Kangin, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar; dan Desa Tegalkertha, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penelitian Model Integrasi Ginalatrik (Edukasi Gizi, Pijat Tuina, dan Latihan Psikomotorik dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting dan Gizi Kurang pada Anak Balita di Provinsi Bali) yang dilaksanakan sebagai Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) Poltekkes Kemenkes Denpasar.
Ketua tim peneliti, Dr. I Wayan Juniarsana, SST, M.Fis., mengatakan penyegaran kader menjadi salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan penelitian sekaligus upaya meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam menangani persoalan gizi di masyarakat. Menurut Juniarsana, penanganan stunting selama ini masih kerap dipersepsikan sebatas persoalan tinggi badan anak.
Akibatnya, intervensi yang diberikan lebih banyak berfokus pada pemberian makanan tambahan (PMT) bernilai gizi tinggi. “Padahal, PMT yang diberikan belum tentu dikonsumsi oleh sasaran. Bahkan, bisa saja makanan tersebut dikonsumsi oleh anggota keluarga lainnya,” ujar Juniarsana saat ditemui di Denpasar, Sabtu 03 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, persoalan nafsu makan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pada anak yang mengalami masalah pertumbuhan. Karena itu, menurut dia, pemberian makanan tambahan perlu diikuti dengan upaya untuk mendukung kemampuan anak menerima dan mengonsumsi makanan dengan baik.
Dalam model yang dikembangkan tim peneliti, pijat Tuina diperkenalkan sebagai terapi komplementer yang dipadukan dengan edukasi gizi dan latihan psikomotorik. Metode pijat tersebut diadaptasi dari pengobatan tradisional China dan dilakukan melalui stimulasi pada titik-titik tertentu pada tubuh anak.
“Pijat Tuina merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan selera makan, menstimulasi pertumbuhan, serta mencegah dan meredakan gejala penyakit pada anak,” kata Juniarsana.
Menurut dia, stimulasi tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kesulitan makan sehingga anak yang mengalami masalah pertumbuhan dapat memperoleh asupan makanan secara lebih optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....