Bunda Literasi Denpasar: Perempuan Berdaya Berawal dari Literasi

  • 03 Okt 2026 08:43 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Bunda Literasi Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara mendorong perempuan terus meningkatkan kemampuan literasi. Hal itu penting agar mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan sekaligus memperkuat perannya di keluarga dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Sagung Antari dalam Bincang Literasi Perempuan bertajuk “Perempuan Literat, Denpasar Berdaya” yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar dalam rangka Gebyar Literasi Denpasar 2026 di Ruang Audio Visual Gedung Dharma Negara Alaya Denpasar, Jumat 02 Oktober 2026. Mengusung tema “Apa yang Dibaca, Apa yang Ditulis, Apa yang Dilakukan”, kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pentingnya literasi bagi perempuan.

Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengambil keputusan, meningkatkan kapasitas diri, serta berkontribusi di tengah keluarga dan masyarakat. Sagung Antari mengatakan pengalaman terjun langsung ke masyarakat juga menjadi proses pembelajaran yang penting.

Menurutnya, setiap persoalan yang ditemui memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda sehingga membutuhkan pemahaman sebelum menentukan langkah. “Saya tahu dari mengerjakan sesuatu, sama seperti ketika kita terjun ke masyarakat. Dari sana kita melihat berbagai persoalan. Saya tidak selalu belajar dari teori, tetapi melihat kasus-kasus yang ada di masyarakat. Dari situ kita belajar bahwa setiap kasus berbeda dan harus disikapi dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Ia mencontohkan ketika menghadapi persoalan anak penyandang disabilitas. Menurutnya, pemahaman terhadap kondisi dan kebutuhan setiap anak diperlukan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. Dalam menangani persoalan di masyarakat, Sagung Antari mengatakan dirinya juga berkoordinasi dengan perangkat daerah untuk mengetahui bentuk bantuan yang dapat diberikan pemerintah.

“Saya bertanya kepada Dinas Sosial, apa yang bisa dibantu oleh Pemerintah Kota. Dari sana saya mendapatkan arahan. Jadi bukan saya yang membantu semuanya, saya hanya membantu membuka jalan. Selanjutnya perangkat daerah memberikan arahan mengenai apa yang bisa dibantu. Dari sana saya juga belajar,” jelasnya.

Menurutnya, pengalaman saja tidak cukup bagi perempuan dalam menjalankan berbagai peran. Membaca dan belajar tetap diperlukan untuk memperluas wawasan sehingga persoalan dapat disikapi secara lebih tepat. “Menjadi perempuan super tidak harus selalu membaca teori, tetapi idealnya kita harus membaca. Dari membaca kita menjadi tahu dan bisa melakukan sesuatu dengan benar. Apa yang kita lihat di masyarakat bisa kita selesaikan dengan lebih tepat,” katanya.

Sagung Antari mengatakan pembangunan kota tidak hanya berkaitan dengan gedung, pusat perbelanjaan, maupun infrastruktur, tetapi juga manusia yang hidup di dalamnya. Dalam konteks keluarga, perempuan memiliki peran penting sebagai salah satu sumber awal pembentukan budaya literasi. Menurutnya, literasi perempuan tidak berhenti pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, memanfaatkan teknologi, meningkatkan keterampilan, serta mengembangkan potensi diri.

“Dari membaca menjadi berdaya. Literasi akan terasa manfaatnya ketika pengetahuan yang kita miliki dapat dihubungkan dengan kesejahteraan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perempuan saat ini menjalankan beragam peran. Perempuan yang bekerja dituntut profesional, sementara dalam keluarga mereka juga memiliki tanggung jawab mengelola keuangan, mendidik anak, menjaga nilai moral, serta terlibat dalam kegiatan adat dan sosial.

Berbagai tanggung jawab tersebut membutuhkan kapasitas yang terus diperbarui. Karena itu, perempuan dinilai perlu memiliki ruang untuk belajar, membaca, mengembangkan keterampilan, sekaligus menjaga kapasitas diri.

Selain itu, pengalaman perempuan juga dinilai penting untuk didokumentasikan sebagai bagian dari pengetahuan dan sejarah kehidupan masyarakat. Perjalanan perempuan dalam keluarga, seni, budaya, hingga kehidupan sosial dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Sagung Antari menegaskan perempuan yang memiliki kemampuan literasi tidak hanya meningkatkan kapasitas dirinya, tetapi juga dapat berkontribusi dalam mencerdaskan keluarga dan lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....