Pengendalian PMK dan LSD Dinilai Penting Jaga Ketahanan Pangan
- 30 Sep 2026 14:11 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Pengendalian penyakit mulut dan kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) dinilai penting untuk menjaga produktivitas ternak dan ketahanan pangan, khususnya ketersediaan daging sapi. Praktisi dan Pemerhati Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. Drh. Ketut Gede Nata Kesuma, SKH, MMA, kepada RRI.CO.ID, Minggu, 27 September 2026 mengatakan PMK dan LSD sama-sama merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, namun memiliki karakteristik dan pola penularan yang berbeda.
Ia menjelaskan, PMK ditandai antara lain dengan lepuh pada bagian mulut dan kuku, hipersalivasi, demam, penurunan nafsu makan, hingga gangguan pada kaki yang menyebabkan ternak sulit berjalan. Sementara LSD ditandai dengan munculnya benjolan pada kulit, demam, dan rasa gatal.
Menurutnya, PMK dapat menular melalui kontak antara hewan sakit dan sehat serta kontaminasi, sedangkan LSD terutama ditularkan melalui serangga seperti lalat. “Kalau Lumpy Skin pencegahannya harus terhindar dari serangga. Sedangkan kalau PMK, isolasi ternak yang sakit dari yang sehat, kemudian spraying, disinfeksi, dan pemberian obat-obatan yang bersifat simptomatis,” ujarnya.
Ia mengimbau peternak segera melapor kepada dokter hewan terdekat ketika menemukan ternak dengan gejala PMK maupun LSD. Sementara itu, instansi terkait perlu melakukan surveillance secara rutin untuk mendeteksi potensi penyakit sebelum terjadi Kejadian Luar Biasa.
Nata Kesuma menilai penguatan kapasitas peternak juga diperlukan, terutama terkait pencegahan penyakit, vaksinasi, tata laksana pemeliharaan, serta tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi kasus. “Peternak sebelum beternak, khususnya sapi ini, dari kedua penyakit ini, sebelum dia memelihara sapi dengan kondisi Bali yang endemis terhadap penyakit PMK, ya dia harus tahu, memahami tentang cara pencegahan dan cara pemeliharaan, terutama penanganan penyakit,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyebut pengendalian PMK dan LSD berkaitan dengan ketahanan pangan karena penyakit tersebut dapat memengaruhi populasi dan produktivitas ternak. Menurutnya, peningkatan kasus PMK dapat berdampak terhadap produksi daging serta mengganggu suplai daging.
Sementara LSD, meskipun dinilai tidak berdampak signifikan secara langsung, tetap dapat menurunkan produktivitas sapi secara kumulatif. Untuk menjaga keberlanjutan produktivitas ternak, ia mendorong penguatan pemetaan wilayah, surveillance, vaksinasi secara berkala, serta komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat secara berkelanjutan.
Ia juga berharap Bali dapat terus dikembangkan sebagai daerah sumber bibit dan daging sapi, dengan didukung ketersediaan pakan serta peningkatan populasi sapi Bali. “Instansi teknis juga secara responsif untuk selalu mengawal, melakukan pemetaan, surveillance, pencegahan secara massal, sehingga KIE, komunikasi, informasi, edukasi ke masyarakat harus secara kontinu,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....