Pendidik Diminta Batasi Ketergantungan Siswa pada AI

  • 28 Sep 2026 13:28 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Badung — Pendidik perlu membatasi ketergantungan siswa terhadap kecerdasan buatan atau AI dalam proses pembelajaran. Siswa tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan AI, tetapi perlu memahami dasar teknologi tersebut agar dapat menggunakannya dengan tepat.

Wakil Rektor III ITB Stikom Bali, Assoc. Prof. Yudi Agusta, Ph.D., mengatakan mempersiapkan siswa menghadapi AI membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam, bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi tersebut. Siswa perlu memahami pengertian AI dan dasar pembentukannya agar dapat menggunakan teknologi tersebut dengan baik.

“Kalau kita ingin mempersiapkan siswa, itu agak lebih dalam. Pengertian tentang AI harus dipahami, dasarnya dari mana. Karena AI itu kan dibuat, bukan sesuatu yang langsung jadi,” ujar Yudi saat diwawancarai usai menjadi pembicara dalam International Conference on Leadership in Education (ICLE) 2026 di HARRIS Hotel & Residences Sunset Road, Badung, Minggu, 27 September 2026.

Dalam pemaparannya, Yudi mengatakan AI kini banyak digunakan untuk mencari informasi dan membantu menyiapkan materi presentasi. Menurutnya, penggunaan AI dalam pendidikan perlu diarahkan agar siswa tidak bergantung pada hasil yang diberikan teknologi tersebut.

Yudi meminta siswa tidak langsung menggunakan jawaban dari AI untuk mengerjakan tugas. Jawaban tersebut perlu diperiksa dan dikembangkan kembali agar siswa tetap menggunakan pemahamannya sendiri.

“Kalau dapat jawaban jangan langsung pakai. Harus melakukan sesuatu, minimal tanya balik lima kali. Supaya dapat jawaban yang berbeda dan kemudian nulisnya dengan cara yang berbeda,” katanya.

Yudi mengatakan regulasi AI di lingkungan pendidikan sangat diperlukan. Ia menyebut kerangka yang telah disusun UNESCO dapat dipelajari untuk melihat kebutuhan penerapan AI, terutama jika regulasi di Indonesia belum tersedia.

“Sangat perlu. Tapi di UNESCO kan sudah ada framework juga. Itu bisa dipelajari dari sana juga. Apa saja yang dibutuhkan untuk bisa menerapkan AI di lingkungan apapun,” ujarnya.

Yudi mengatakan pedoman tersebut penting untuk mencegah penggunaan AI yang tidak tepat di lingkungan pendidikan. Jika regulasi belum tersedia, kerangka yang sudah ada dapat dijadikan dasar penerapan AI.

“Kalau itu tidak disiapkan otomatis ya tadi bahaya. Penggunaan AI kan berbahaya. Jadi perlu untuk mengikuti kalau memang belum ada regulasi di sini, ada framework di mana-mana. Itu bisa untuk dijadikan dasarnya,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....