Gunung Berapi dan Tsunami Jadi Fokus Utama Risiko Bencana di Bandara Ngurah Rai
- 28 Sep 2026 13:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Badung – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menetapkan potensi aktivitas gunung berapi dan tsunami sebagai prioritas utama penanganan kondisi darurat. Pemetaan risiko ini dilakukan untuk menjaga kesiapan operasional bandara dalam menghadapi berbagai ancaman bencana alam di wilayah Bali dan sekitarnya.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, mengungkapkan bahwa dari tujuh kategori bencana yang telah dipetakan, ancaman dari aktivitas vulkanik serta tsunami membutuhkan perhatian khusus.
“Kami menetapkan klasifikasi disaster yang berpotensi terjadi di Bali. Dari tujuh kategori yang telah kami tetapkan ada prioritas utama, yaitu volcano activity atau gunung berapi, baik di Gunung Agung dan sekitarnya, tsunami, serta debu vulkanik akibat dari lingkungan sekitar Provinsi Bali,” ujar Nugroho Jati.
Ia menjelaskan bahwa setiap potensi bencana memerlukan strategi dan keterlibatan pihak yang berbeda. Penanganan bencana alam seperti letusan gunung berapi atau tsunami akan sangat kontras dengan penanganan krisis non-alam seperti pandemi.
“Ini berbeda penanganan ketika ada disaster terkait dengan pandemi, yang tidak ada batas waktu kapan selesai dan melibatkan pihak mana saja. Jadi semua akan tergantung pada kondisinya,” tambahnya.
Guna memastikan kesiapan seluruh jajaran dalam menghadapi skenario terburuk, Bandara Ngurah Rai menggelar latihan Penanganan Keadaan Darurat (PKD) skala penuh (full-scale exercise). Latihan rutin yang diadakan setiap dua tahun sekali ini merupakan yang pertama kalinya digelar kembali pasca-pandemi.
Rangkaian simpul latihan mencakup tiga penanganan utama: simulasi kebakaran gedung (building fire), ancaman keamanan bandara (airport security), hingga penanganan kecelakaan pesawat (aircraft accident) di dalam kawasan bandara yang dilaksanakan hingga malam hari untuk menguji kesiapsiagaan operasional 24 jam.
Latihan besar ini melibatkan sebanyak 860 personel gabungan lintas instansi yang tergabung dalam komite keamanan dan keadaan darurat bandar udara. Pihak yang terlibat meliputi TNI/Polri, maskapai, ground handling, Imigrasi, Bea Cukai, Karantina, BASARNAS, Petugas Pemadam Kebakaran daerah, rumah sakit rujukan, hingga AirNav Indonesia.
Meski melibatkan ratusan personel dan kegiatan latihan berskala besar di area sisi udara (airside), pihak pengelola memastikan operasional penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tetap berjalan normal tanpa penutupan maupun pengurangan penerbangan.
Pengelola bandara juga telah menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) jauh-jauh hari untuk mengantisipasi potensi penyesuaian jadwal atau dampak delay selama latihan berlangsung.
“Untuk latihan ini kita tetap menjaga operasional Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai tetap berjalan dengan baik, lancar, dan tidak terganggu. Tidak ada penutupan, tidak ada pengurangan, semua tetap berjalan,” tegas Nugroho.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....