Art & Bali di Nuanu Tarik 10 Ribu Pengunjung, Hampir 300 Karya Terjual
- 18 Sep 2026 18:06 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Tabanan - Penyelenggaraan Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan, Bali, mencatat sekitar 10 ribu pengunjung selama tiga hari pelaksanaan pada 11 hingga 13 September 2026. Pameran seni tersebut juga mencatat penjualan hampir 300 karya dari 23 exhibitor, dengan kolektor yang hadir tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Singapura, Malaysia, Australia, Korea, dan India.
Lebih dari 300 seniman dari Indonesia, Asia Tenggara, dan berbagai negara lainnya turut menampilkan karya dalam penyelenggaraan Art & Bali edisi kedua tersebut. CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, mengatakan penyelenggaraan Art & Bali menjadi salah satu upaya menghadirkan ruang yang mempertemukan seniman dan kreator dengan audiens serta kolektor dari berbagai negara.
"Indonesia memiliki seniman dan kreator yang luar biasa, namun masih terlalu sedikit ruang yang mempertemukan karya mereka dengan dunia. Inilah ruang yang ingin kami hadirkan melalui Nuanu, dan Art & Bali menjadi salah satu cara kami mewujudkannya," ujarnya.
Capaian Art & Bali 2026 tersebut berlangsung satu tahun setelah penyelenggaraan perdana pada 2025. Perkembangan jumlah pengunjung dan transaksi menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap seni kontemporer di Bali, baik dari kolektor lokal maupun internasional.
Founding Director Art & Bali, Kelsang Dolma, mengatakan penyelenggaraan tahun kedua juga menunjukkan perubahan respons publik terhadap keberadaan art fair internasional di Bali. Menurutnya, jika pada tahun pertama masih muncul pertanyaan mengenai kemampuan Bali menjadi tuan rumah art fair internasional, pada penyelenggaraan tahun ini perhatian mulai bergeser pada keberlanjutan acara tersebut.
"Tahun lalu, banyak orang bertanya apakah Bali dapat menjadi tuan rumah sebuah art fair internasional. Tahun ini, pertanyaannya sudah berbeda. Para kolektor kembali, galeri mencatat penjualan, dan bahkan sebelum acara berakhir, orang-orang sudah mulai bertanya kepada saya tentang Art & Bali 2027," ungkapnya.
Art & Bali 2026 mengusung tema "Bridging Dichotomies" yang mempertemukan berbagai praktik seni dan perspektif kreatif dalam satu ruang. Selain pameran utama, penyelenggaraan tersebut juga menghadirkan Nuanu Future Talks: Fashion & Art yang menghadirkan 21 pembicara global untuk membahas perkembangan masa depan fashion dan seni.
Director Nuanu Real Estate sekaligus Lead Partner Art & Bali, Anastasia Sinberg, mengatakan keterlibatan Nuanu dalam Art & Bali didorong oleh keinginan untuk menjadikan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di ruang kreatif tersebut. "Bangunan memberi bentuk pada sebuah tempat, tetapi program seperti Art & Bali-lah yang memberi alasan bagi orang untuk merasa terhubung dan peduli terhadapnya," ujarnya.
Pada hari pembukaan, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, turut hadir dalam panel bertajuk "Where Are the Next Creative Capitals?" bersama CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, Founder and Creative Director ONG CEN KUANG, Budiman Ong, serta Co-Founder Jia CURATED. Diskusi tersebut dimoderatori Kelsang Dolma.
Irene Umar mengatakan pertumbuhan ekonomi kreatif membutuhkan ruang yang mempertemukan seniman, desainer, perajin, dan pembeli sehingga karya kreatif Indonesia dapat menjangkau pasar yang lebih luas. "Ekonomi kreatif Indonesia tumbuh ketika seniman, desainer, dan perajin memiliki ruang untuk bertemu dengan pembeli serta memperkenalkan karya mereka kepada dunia," ujarnya.
Ia menilai penyelenggaraan Art & Bali menunjukkan bahwa Bali memiliki talenta, audiens, serta platform yang dapat membawa pembahasan mengenai seni dan budaya kontemporer Indonesia ke ruang yang lebih luas. Penyelenggaraan Art & Bali 2026 juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Tabanan sebagai wilayah tempat Nuanu Creative City berada.
Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, S.Sos., mengatakan penyelenggaraan pameran seni internasional tersebut memberikan peluang bagi seniman, pelaku ekonomi kreatif, serta usaha lokal untuk berkembang. "Kami bangga Tabanan menjadi tempat berlangsungnya pameran seni internasional berskala besar seperti Art & Bali. Kehadiran acara ini tidak hanya menarik lebih banyak pengunjung ke Tabanan, tetapi juga membuka peluang bagi seniman, pelaku kreatif, dan usaha lokal untuk berkembang," katanya.
Salah satu kolektor yang berbasis di Bali, Tatiana Azarkh, juga kembali berpartisipasi dalam Art & Bali setelah membeli karya seni pertamanya pada penyelenggaraan 2025. Pada Art & Bali 2026, Tatiana membeli sembilan karya dari Tonyraka, G13, dan Agung Rai Fine Art Gallery.
Ia mengatakan pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal karya secara lebih dekat sekaligus mendengar cerita di balik karya yang dibelinya. Sementara itu, G13 Gallery dari Kuala Lumpur menjadi satu-satunya galeri asal Malaysia yang berpartisipasi dalam Art & Bali 2026. Founder G13 Gallery, Kenny Teng, mengatakan penyelenggaraan tersebut membuka kesempatan bagi galeri untuk bertemu kolektor dan audiens baru.
Menurutnya, keberadaan Art & Bali relevan untuk memperluas percakapan dan koneksi antara seniman Malaysia, Indonesia, dan kawasan Asia Tenggara. "Art & Bali menawarkan sebuah platform yang segar dan sangat engaging bagi G13 Gallery, dengan jumlah pengunjung yang kuat serta perpaduan yang khas antara kolektor, penikmat seni, pengunjung internasional, dan komunitas kreatif yang lebih luas," ujarnya.
Dari Bali, Lanö Contemporary Art Gallery turut membawa perspektif seni kontemporer lokal ke dalam Art & Bali. Founder Lanö Contemporary Art Gallery, Kemalezedine, mengatakan keikutsertaan tersebut menjadi kesempatan untuk menghubungkan perkembangan seni kontemporer Bali dan Indonesia dengan ekosistem seni internasional.
Sementara itu, Sangkring Art Space dari Yogyakarta memanfaatkan Art & Bali 2026 untuk menjangkau kolektor dan audiens baru di Bali. Programme Manager Sangkring Art Space, Jenny Vi Mee Yei, mengatakan partisipasi tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menjelang pembukaan ruang mereka di Bali yang direncanakan pada akhir Desember.
"Berpartisipasi di Art & Bali menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi kami untuk memahami pasar Bali lebih dekat, bertemu dengan kolektor baru, dan mengenali minat audiens di sini," ungkapnya.
Art & Bali 2026 juga mempertemukan praktik seni kontemporer dengan pendekatan yang lebih eksperimental melalui partisipasi Callisto × ArtLab. Platform tersebut menggabungkan instalasi, patung, edisi, dan teknologi dalam satu presentasi. Founder Callisto × ArtLab, Kirill Pobedin, mengatakan Art & Bali memberikan ruang bagi praktik seni yang kompleks untuk hadir tanpa harus menyesuaikan diri dengan format art fair konvensional.
Di luar rangkaian art fair yang berlangsung 11 hingga 13 September, sejumlah program pameran masih dapat dikunjungi masyarakat. Pameran utama "What The Body Remembers" masih berlangsung di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City, hingga 29 November 2026.
Pameran yang dikurasi Bandana Tewari bersama Assistant Curator Brina Paska tersebut mempertemukan 26 seniman, desainer, dan studio dari Indonesia dan India. Karya-karya yang ditampilkan berada di persimpangan seni kontemporer, fashion, tekstil, dan kriya.
Lead Curator "What The Body Remembers", Bandana Tewari, mengatakan salah satu hal yang berkesan dari penyelenggaraan Art & Bali adalah keberagaman orang yang hadir dan bertemu dalam satu ruang. "Melihat komunitas kreatif Bali dengan rasa ingin tahu, keberagaman, keterbukaan, dan kemurahan hatinya berkumpul dalam satu ruang untuk berbagi gagasan menjadi pengingat bahwa kebudayaan terus tumbuh melalui pertemuan dan pertukaran," ujarnya.
Selain pameran utama, terdapat pula pameran satelit "Do Not Clean This Room" yang digelar Block42 di Nuanu dan dikuratori Gatari Surya Kusuma. Pameran tersebut menghadirkan 18 seniman dalam studio sementara yang dibangun dari kontainer pengiriman. Pengunjung dapat melihat karya yang telah selesai sekaligus proses riset, eksperimen, dan aktivitas di balik penciptaan karya.
Kurator "Do Not Clean This Room", Gatari Surya Kusuma, mengatakan pameran tersebut menjadi ruang untuk menghadirkan suara seniman yang dinilai perlu memperoleh perhatian lebih luas. "Art & Bali memberikan mereka platform untuk menjangkau audiens internasional," ujarnya.
Dengan capaian sekitar 10 ribu pengunjung, hampir 300 karya terjual, 23 exhibitor, serta keterlibatan lebih dari 300 seniman, penyelenggaraan Art & Bali 2026 menjadi bagian dari perkembangan ekosistem seni dan ekonomi kreatif di Bali. Art & Bali dijadwalkan kembali digelar di Nuanu Creative City untuk edisi ketiga pada September 2027.
Sementara itu, masyarakat masih dapat mengunjungi pameran "What The Body Remembers" hingga 29 November 2026 sebagai bagian dari rangkaian program seni yang berlanjut setelah penyelenggaraan art fair.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....