Inovasi KKN Warmadewa: Sulap Limbah Ternak jadi Pupuk Organik
- 17 Sep 2026 06:46 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Komoditas hortikultura seperti bawang merah dan sayur-mayur menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Desa Oesao, Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, para petani dihadapkan pada persoalan pelik berupa penurunan kesuburan tanah yang memicu merosotnya hasil panen.
Masalah ini kian terasa berat lantaran harga pupuk anorganik di pasaran sulit terjangkau oleh daya beli petani. Merespons tantangan tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Warmadewa (Unwar) meluncurkan program inovasi pertanian berkelanjutan di wilayah tersebut.
Dalam rangkaian kegiatan KKN yang berlangsung pada 20 Juli hingga 5 September 2026 lalu, mahasiswa mengenalkan sekaligus melatih warga mengolah limbah kotoran sapi dan jerami padi menjadi pupuk organik kaya hara melalui teknik fermentasi. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unwar, Ir. I Nyoman Kaca, M.Si., di Denpasar, Rabu 16 September 2026 menuturkan Desa Oesao memiliki potensi sektor pertanian dan peternakan yang amat besar, tetapi limbahnya belum terkelola secara optimal.
"Potensi bahan baku lokal di Desa Oesao melimpah. Melalui pelatihan dan praktik langsung pembuatan pupuk organik fermentasi, kami mendorong pemanfaatan kotoran sapi dan jerami padi agar limbah tak lagi mencemari lingkungan, melainkan memberikan nilai tambah ekonomi serta ekologi bagi masyarakat," ujar Nyoman Kaca.
Nyoman Kaca mengatakan, inovasi pemupukan berbasis fermentasi ini menghasilkan pupuk organik dengan kandungan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan untuk memulihkan kesuburan tanah serta memacu pertumbuhan tanaman. Dengan memanfaatkan pupuk buatan sendiri, para petani di Kecamatan Kupang Timur diharapkan dapat menekan biaya produksi secara signifikan dari pengeluaran pupuk kimia.
Di samping dampak efisiensi biaya, langkah ini juga memperkuat praktik pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan. Program yang digulirkan Unwar selama pertengahan Juli hingga awal September 2026 tersebut disambut antusias oleh kelompok tani, pemuda, dan warga setempat.
Kehadiran inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal kemandirian petani Desa Oesao dalam mengoptimalkan potensi daerah demi menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....