Gotong Royong di Lingkungan Banjar Jadi Kunci Tanggap Bencana

  • 14 Sep 2026 07:29 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID - Denpasar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, mendorong penguatan tradisi gotong royong di tingkat banjar, sebagai kunci utama memperkecil risiko serta dampak kerusakan, akibat bencana alam maupun non-alam. Analis Kebencanaan Ahli Pertama BPBD Provinsi Bali, Ni Made Ayu Juli Antari, S.E., mengimbau masyarakat agar membentuk sistem mitigasi mandiri, mengingat bantuan logistik pemerintah memerlukan waktu untuk sampai ke lokasi kejadian.

Juli Antari menambahkan guna meminimalisasi potensi kerugian di kawasan rawan bencana, pihak BPBD menilai edukasi dasar manajemen bencana harus diintegrasikan ke dalam kegiatan rutin warga lokal. "Ketika gotong royong setiap bulan rutin diadakan di tingkat banjar, hal itu tidak hanya menumbuhkan empati kemanusiaan tetapi juga melatih kesiapsiagaan warga saat menghadapi kondisi darurat," ujar Juli Antari ketika berbincang dalam acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar.

Juli Antari mengungkapkan ketanggapan masyarakat Bali terbukti sangat tinggi dalam merespons berbagai insiden darurat, seperti aksi gotong royong memadamkan api saat kebakaran pemukiman, serta pembersihan puing bangunan pascabencana. Setelah penanganan mandiri oleh warga selesai dilakukan, BPBD kabupaten/kota bersama provinsi, akan turun ke lapangan untuk melakukan kaji cepat dampak kerugian.

Dalam tahap pemulihan pascabencana, pemerintah daerah telah menyiapkan instrumen pendukung, untuk meringankan beban ekonomi warga yang terdampak musibah secara langsung. "Kami bersinergi melakukan mekanisme Pengkajian Kebutuhan Pascabencana atau Jitupasna, untuk menghitung nilai kerugian warga sekaligus menyalurkan bantuan sosial berupa dana stimulan," ungkap Juli Antari.

Juli Antari menjelasksan selain fokus pada penanganan darurat, BPBD terus memperluas pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di berbagai wilayah rawan bencana. Program fasilitasi tersebut melibatkan seluruh komponen masyarakat pesisir mulai dari pengurus desa adat, Sekaa Truna Truni (STT), hingga kelompok ibu-ibu PKK.

Langkah preventif ini diharapkan mampu membangun ketahanan komunitas yang solid, dari tingkat paling bawah hingga skala kecamatan secara berkelanjutan. Melalui pelatihan simulasi kebencanaan yang digelar secara konsisten, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman standar operasional keselamatan dalam menyelamatkan diri serta anggota keluarganya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....