Menyikapi Banjir Informasi di Era AI lewat Literasi dan Berpikir Kritis
- 10 Sep 2026 15:21 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Memperingati Hari Literasi Internasional, akademisi Universitas Udayana menekankan pentingnya pergeseran makna literasi dari sekadar kemampuan membaca dan menulis menjadi kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta peduli terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. Dosen Program Studi Sastra Indonesia Universitas Udayana, I Gusti Ngurah Mayun Susandhika, S.S., M.Hum., kepada RRI.CO.ID, Senin, 7 September 2026 mengatakan tema “Literasi untuk Manusia, Planet, dan Kemakmuran” yang ditetapkan UNESCO memiliki makna strategis dan inovatif.
Menurutnya, literasi untuk manusia berkaitan dengan kemampuan memahami informasi dan membentuk individu yang kritis serta berkarakter. Sementara literasi untuk planet mendorong kepedulian terhadap lingkungan, sedangkan literasi untuk kemakmuran berkaitan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup, produktivitas, kreativitas, dan kesejahteraan.
“Literasi itu bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan secara utuh,” ujarnya.
Dari perspektif bahasa dan sastra, Mayun menjelaskan bahasa merupakan instrumen utama manusia dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan menafsirkan, mempertanyakan, membandingkan, serta mengevaluasi informasi yang diterima.
Ia mencontohkan, ketika membaca sebuah teks, seseorang perlu mempertanyakan siapa yang berbicara, untuk kepentingan apa, kepada siapa informasi tersebut disampaikan, serta dalam konteks apa informasi itu muncul. “Bagaimana suatu realitas dibangun melalui bahasa, itu juga perlu dipahami. Jadi, literasi bahasa dan sastra merupakan latihan membaca teks sekaligus membaca kehidupan,” jelasnya.
Menurutnya, karya sastra seperti novel, cerpen, dan puisi juga dapat membantu seseorang melihat kehidupan dari berbagai perspektif. Literasi sastra tidak hanya mengajarkan pemahaman terhadap kata-kata, tetapi juga membantu memahami manusia, masyarakat, budaya, kekuasaan, ketidakadilan, hingga berbagai persoalan sosial.
Sementara itu, tantangan budaya literasi generasi muda saat ini, menurut Mayun, bukan lagi terbatas pada akses terhadap bahan bacaan. Generasi muda justru memiliki akses informasi yang sangat luas melalui media digital.
“Tantangannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat menjadi kebiasaan membaca, memahami, memverifikasi, dan merefleksikan informasi secara mendalam,” ungkapnya.
Ia menilai media sosial membuat informasi hadir dalam bentuk singkat dan cepat. Kondisi tersebut dapat memunculkan kebiasaan membaca judul atau potongan informasi, kemudian langsung memberikan penilaian tanpa memahami konteks secara utuh.
Karena itu, budaya literasi generasi muda perlu diarahkan dari sekadar gemar membaca menjadi gemar memahami dan berpikir kritis. “Yang penting adalah menciptakan ekosistem literasi yang menarik dan relevan dengan kehidupan anak muda, memanfaatkan teknologi, tetapi tetap mendorong kedalaman berpikir,” tambahnya.
Mayun juga menyoroti peran perguruan tinggi, khususnya Program Studi Sastra Indonesia, dalam memperkuat budaya literasi di masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam bidang pendidikan, mahasiswa perlu dibekali kemampuan membaca kritis, menulis akademik dan kreatif, berpikir analitis, serta memahami perkembangan literasi digital. Sementara melalui penelitian, perguruan tinggi dapat mengkaji berbagai fenomena bahasa dan perkembangan literasi di masyarakat yang kemudian diterapkan dalam program literasi di sekolah, desa, komunitas, perpustakaan, ruang publik, maupun platform digital.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara pengetahuan, tetapi harus menjadi jembatan pengetahuan. Pengetahuan yang dihasilkan di kampus perlu diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dipahami, dimanfaatkan, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelasnya.
Di tengah kemudahan memperoleh informasi melalui media sosial dan kecerdasan buatan atau AI, Mayun menegaskan kemampuan membaca dan menulis saja tidak lagi cukup untuk disebut sebagai literasi. Menurutnya, membaca informasi di era digital harus disertai kemampuan mempertanyakan kebenaran informasi, menelusuri sumber, melihat bukti dan konteks, serta mengetahui siapa pembuat informasi dan kepentingan di baliknya.
Ia menegaskan AI dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, mengolah informasi, maupun menghasilkan teks. Namun, kemampuan manusia untuk memeriksa kebenaran, menilai kualitas informasi, memahami konteks, mempertimbangkan aspek etika, dan bertanggung jawab terhadap hasil yang digunakan tetap tidak dapat digantikan.
“Literasi era digital pada hakikatnya adalah kemampuan untuk berpikir sebelum percaya, memeriksa sebelum menyebarkan, dan memahami sebelum mengambil tindakan,” tegasnya.
Dalam momentum Hari Literasi Internasional, ia berharap generasi muda semakin mampu memanfaatkan perkembangan digital dan ilmu pengetahuan secara bijak untuk menghadapi masa depan. “Generasi muda harus terus mempelajari ilmu pengetahuan, memahami perkembangan digitalisasi, dan menyerap pemikiran-pemikiran yang lebih modern untuk menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....