Kolaborasi Lintas Negara Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal
- 10 Sep 2026 07:10 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Pertumbuhan populasi dan ancaman perubahan iklim global menuntut hadirnya strategi ketahanan pangan yang tidak hanya mengandalkan kemajuan teknologi, tetapi juga berakar pada kearifan lokal serta energi inovasi generasi muda. Langkah konkret memadukan dua potensi besar tersebut diwujudkan melalui kolaborasi akademis lintas negara dalam program Student Mobility yang resmi dibuka di Denpasar, Rabu 9 September 2026.
Acara bertajuk "Local Wisdom and Youth Innovation: Building Sustainable Food Security" tersebut dibuka Dekan Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si. Program ini melibatkan kerja sama lintas institusi yang menghadirkan perwakilan akademisi dan mahasiswa dari Ehime University (Jepang), Universitas Markandeya, serta Institut Kesehatan Bali.
Prof. Luh Suriati menegaskan, program Student Mobility diposisikan bukan sekadar forum rutin pertukaran akademik atau ruang transfer ilmu teoretis semata. "Program Student Mobility bukan sekadar ajang pertukaran akademik, melainkan juga jembatan persahabatan, kolaborasi ilmiah, dan transfer pengetahuan yang saling menguatkan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dan sivitas akademika tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga menyaksikan praktik di lapangan, memahami konteks budaya lokal, serta menemukan solusi inovatif yang dapat diterapkan secara kontekstual," ujar Prof. Suriati.
Prof. Suriati menjelaskan, isu ketahanan pangan yang dihadapi dunia saat ini terlalu kompleks jika hanya didekati dari sudut pandang teknokratis atau teknologi tunggal. Konsep kearifan lokal seperti warisan budaya, tata kelola lahan tradisional, serta pengetahuan masyarakat dalam pengolahan pangan terbukti memiliki daya tahan (resilience) tinggi terhadap dinamika perubahan lingkungan.
Di sisi lain, partisipasi Ehime University asal Jepang menjadi modal penting untuk menyinergikan budaya riset berbasis data serta teknologi pengolahan pangan modern dengan nilai-nilai lokal Indonesia. "Ketahanan pangan tidak dapat hanya didekati melalui teknologi semata, melainkan harus dipadukan dengan kearifan lokal dan inovasi kaum muda. Kearifan lokal memiliki nilai strategis dan telah terbukti adaptif terhadap perubahan lingkungan. Di sisi lain, inovasi kaum muda membawa energi, kreativitas, literasi digital, serta semangat untuk menciptakan pendekatan baru yang lebih efisien, tepat sasaran, dan berkelanjutan," tuturnya.
Prof. Suriati menambahkan, kehadiran Institut Kesehatan Bali dan Universitas Markandeya turut melengkapi dimensi ketahanan pangan dari kacamata kesehatan masyarakat dan pendekatan komunitas. Ketahanan pangan mutlak mencakup pemenuhan kualitas gizi, keamanan pangan, serta pencegahan masalah nutrisi secara holistik. Untuk memastikan program memberikan dampak riil, Prof. Suriati meminta para mahasiswa peserta Student Mobility untuk terjun membedah persoalan di lapangan, berdiskusi secara terbuka, serta menggali ide-ide aplikatif.
Ide tersebut dapat berupa model pengolahan hasil panen berbasis nilai lokal, program edukasi gizi masyarakat, hingga penerapan teknologi tepat guna. Pihaknya menginstruksikan agar luaran (output) dari kolaborasi internasional ini tidak berhenti sebagai dokumen administratif di atas kertas.
"Saya meminta agar luaran dari kegiatan ini tidak berhenti sebatas laporan administratif semata. Harus ada rencana tindak lanjut, mulai dari publikasi bersama, penyusunan proposal kolaboratif, pengabdian masyarakat, hingga penerjemahan gagasan menjadi program skala kecil yang dapat diuji coba dan dievaluasi. Kolaborasi antar-kampus yang terjalin hari ini harus berkembang menjadi kemitraan yang nyata dan berkelanjutan," tegas Prof. Suriati.
Prof. Suriati menggarisbawahi kearifan lokal bukanlah bentuk penolakan terhadap era modernisasi, melainkan sebuah pondasi utama. "Kearifan lokal tidak berarti menolak modernitas, melainkan menjadi landasannya. Inovasi kaum muda bukan hanya tentang gagasan yang menarik, melainkan harus berdampak nyata. Ketika keduanya menyatu, kita akan mencapai strategi ketahanan pangan yang lebih adaptif, lebih diterima secara sosial, dan lebih berkelanjutan dalam jangka panjang," tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....