Share Edu Indonesia Dorong Sekolah Cetak Siswa Jadi Agen Perubahan Sosial

  • 06 Sep 2026 10:06 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Transformasi pendidikan di era Society 5.0 dinilai tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan akademik dan penguasaan teknologi. Sekolah juga didorong mampu membentuk peserta didik yang memiliki kemampuan hidup bermasyarakat dan menjadi agen perubahan sosial.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Share Edu Indonesia, Dr. Shobikhul Qisom, M.Pd., kepada RRI.CO.ID, Sabtu, 5 September 2026 dalam kegiatan Training Social Capital yang dilaksanakan di Regional Bali Nusra. Shobikhul mengungkapkan, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepemimpinan berbasis social capital atau modal sosial di lingkungan pendidikan.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia dan Bali Nusra menjadi regional kelima yang menjadi lokasi pelaksanaan. “Peserta yang hadir ada 86 dari Bali, dari Nusa Tenggara Barat, dan dari Nusa Tenggara Timur, serta ada sebagian dari Banyuwangi,” ujarnya.

Shobikhul mengatakan, Training Social Capital terbuka bagi berbagai lembaga pendidikan, baik sekolah Muslim maupun non-Muslim, sekolah negeri maupun lembaga pendidikan lainnya. Menurutnya, keterbukaan tersebut menjadi bagian dari semangat untuk membangun kemampuan bersama, berbagi, dan berdaya melalui dunia pendidikan.

Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari, dengan rangkaian kegiatan online berupa sharing insight setiap hari Sabtu dan dilanjutkan dengan kegiatan secara offline. Ia menjelaskan, salah satu materi utama yang diberikan adalah konsep social capital di dunia pendidikan serta implementasi Social Capital Project Based Learning.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibagi menjadi kelas pimpinan sekolah dan kelas guru. Untuk kepala sekolah, materi diarahkan pada penyusunan perencanaan strategis agar sekolah mampu membangun modal sosial sekaligus memperkuat peran sekolah di tengah masyarakat.

“Bagaimana kepala sekolah mampu menjadi pemimpin di masyarakatnya. Ini kemudian diturunkan menjadi kegiatan-kegiatan supaya sekolah itu bisa terus membangun nilai-nilai kebaikan, sekolah itu bisa dipercaya oleh masyarakat, dan terjadi kolaborasi antara sekolah dengan masyarakat,” jelasnya.

Sementara bagi guru, materi diarahkan pada kemampuan merancang kurikulum, metode pembelajaran, hingga penilaian yang dapat membangun modal sosial. Shobikhul menegaskan, pembelajaran berbasis proyek tersebut diharapkan mampu menjadikan siswa bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai agen perubahan di lingkungan masyarakat.

“Target akhirnya, sekolah itu mendidik anak-anak untuk menjadi agensi, menjadi agen perubahan di masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pendidikan di era Society 5.0 harus mampu menjawab perubahan masyarakat yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi dan kompetisi. Menurutnya, pendidikan perlu membangun keseimbangan antara pengetahuan, kehidupan spiritual, dan kemakmuran agar masyarakat tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga memiliki peradaban dan kehidupan sosial yang baik.

Shobikhul berharap program pembekalan bagi guru dan pimpinan sekolah melalui Training Social Capital dapat terus berjalan hingga seluruh rangkaian regional selesai pada Desember 2026. Ia optimistis pendidikan berbasis modal sosial dapat membantu sekolah membentuk generasi yang mampu hidup bermasyarakat dan membangun masyarakat yang bermartabat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....