Bangli Alami Penurunan Debit Air, BPBD: Tidak Sampai Krisis

  • 02 Sep 2026 13:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Bangli - Puncak musim kemarau yang berlangsung Agustus hingga Oktober mendatang berpotensi memicu penurunan debit air di sejumlah sumber mata air di Kabupaten Bangli. Kendati mengalami penurunan debit air, namun sejumlah daerah di Kabupaten Bangli belum ada yang melaporkan persoalan krisis air bersih saat puncak kemarau.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bangli I Ketut Agus Sutapa kepada RRI.CO.ID di Bangli mengatakan, sejumlah sumber mata air utama di Bangli mengalami penurunan debit air akibat kekeringan lokal di beberapa titik tertentu. Ia menjelaskan, secara karakteristik 22 sumber mata air yang dimanfaatkan empat kecamatan di Bangli masih dalam kondisi cukup baik, sehingga kebutuhan air bersih masyarakat masih bisa terpenuhi saat puncak kemarau.

Agus Sutapa mengakui, saat musim kemarau, permintaan air bersih meningkat hingga 10 persen, terutama di kawasan pertanian atau perkebunan yang mengandalkan pasokan air untuk lahan garapan. “Bangli berpotensi mengalami penurunan debit air saat puncak kemarau. Namun penurunan debit air di sumber mata air tersebut tidak serta merta memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah di Kabupaten Bangli,” ujarnya.

Agus Sutapa mengungkapkan, Bangli pernah mengalami krisis air bersih pada 2016 lalu, karena debit air di sejumlah sumber mata air menurun drastis saat kemarau. Namun hingga saat ini, Bangli menjadi salah satu Kabupaten yang tidak mengalami krisis air bersih.

Saat kemarau, bencana hidrometeorologi yang rawan melanda Bangli yakni kebakaran hutan dan lahan di kawasan hutan Kintamani dan lereng Gunung Batur. “Sejumlah daerah di Bangli pernah mengalami krisis air bersih terakhir itu tahun 2026. Hingga saat ini belum ada laporan krisis air bersih yang kami terima, karena sumber mata air di Bali kondisinya cukup baik dan bisa memenuhi kebutuhan air masyarakat,” tuturnya.

Kabupaten Bangli menjadi salah satu daerah yang rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan yang tinggi. Dengan hamparan hutan yang luas dan semak belukar yang mudah terbakar dan kering, sangat rawan mengalami kebakaran. Tidak terkecuali di lereng Gunung Batur dengan vegetasi dan semak mudah terbakar saat kemarau panjang.

Sebagian besar kebakaran juga dipicu kelalaian masyarakat yang membuang puntung rokok di jalur pendakian maupun aktivitas pembakaran sampah. Kebakaran bahkan pernah menghanguskan area seluas 9,8 hektar di Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang Bangli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....