Pakar FK Unud: Pencegahan Zika Utamakan PSN 3M Plus

  • 30 Agt 2026 11:25 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Masyarakat di Bali diimbau tidak panik menyikapi pemberitaan mengenai potensi penularan virus Zika. Pencegahan tetap perlu dilakukan secara proporsional, terutama melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus.

Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dr. dr. I Wayan Gede Artawan Eka Putra, M.Epid., kepada RRI.CO.ID, Jum’at, 28 Agustus 2026 mengatakan, hingga saat ini masyarakat perlu menyikapi informasi mengenai Zika secara bijak dan tidak berlebihan. Menurutnya, sistem surveilans penyakit yang ditularkan melalui vektor telah berjalan secara sistematis dan berkesinambungan.

Pemantauan tersebut juga berkaitan dengan penyakit yang memiliki vektor serupa, seperti demam berdarah dengue dan chikungunya. “Dari sistem surveilans kita, kita sudah punya sistem pemantauan yang sistematis, berkesinambungan terhadap penyakit yang ditularkan melalui vektor, termasuk DBD, chikungunya, karena vektornya sama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang disampaikannya, belum ditemukan kasus positif Zika di Bali selain kasus yang dilaporkan datang dari luar. Kondisi tersebut menurutnya belum cukup untuk memastikan bahwa telah terjadi penularan virus Zika di Bali.

“Belum ada ditemukan kasus positif di Bali selain yang dilaporkan yang datang ini. Masalahnya ini belum bisa ditelusuri ke mana saja selain ke Bali. Sehingga belum bisa dipastikan apakah benar penularan terjadi di Bali,” ungkapnya.

Dr. Artawan menjelaskan, virus Zika merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Zika dan paling sering ditularkan melalui gigitan nyamuk. Vektor yang dapat menularkan virus tersebut antara lain Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang juga menjadi vektor demam berdarah dengue.

Selain melalui gigitan nyamuk, ia menyebut penularan Zika juga dapat terjadi melalui hubungan seksual serta dari ibu yang terinfeksi kepada janinnya. Menurutnya, masa inkubasi virus Zika dari masuknya virus melalui gigitan nyamuk hingga munculnya tanda dan gejala berkisar empat sampai tujuh hari.

Gejala yang dapat muncul pada orang dewasa antara lain demam, ruam kemerahan pada kulit, konjungtivitis atau peradangan pada bagian putih mata, nyeri sendi, dan sakit kepala. Namun, gejala Zika dapat tergolong ringan sehingga seseorang yang terinfeksi terkadang tidak menyadari kondisinya. Hal tersebut justru perlu menjadi perhatian karena dapat membuka peluang terjadinya penularan.

“Variasi gejalanya bisa dari ringan sampai sedang. Hanya saja jika menginfeksi populasi yang rentan, contohnya ibu hamil, kemudian menginfeksi janinnya, itu bisa menyebabkan dampak yang berat, termasuk kecacatan pada janinnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada ibu hamil, infeksi Zika juga dapat menimbulkan kondisi yang lebih berat. Karena itu, kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian lebih dalam upaya pencegahan.

Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta memperkuat PSN 3M Plus. Upaya tersebut dilakukan dengan menguras tempat penampungan air, menutup tempat yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk, serta menggunakan kembali atau mendaur ulang barang yang dapat menampung air.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan cara paling efektif untuk mengendalikan vektor Aedes aegypti. Penggunaan losion antinyamuk juga dapat dilakukan sebagai perlindungan tambahan, sementara fogging dapat menjadi salah satu langkah pengendalian dalam kondisi tertentu.

“Yang paling efektif untuk vektor Aedes aegypti adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan 3M Plus. Fogging itu juga bisa, tetapi masyarakat harus ditekankan bahwa yang paling efektif tetap PSN dengan 3M Plus,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar pencegahan dilakukan secara rutin, setidaknya seminggu sekali, dengan setiap rumah tangga bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Dr. Artawan menegaskan, upaya pencegahan Zika pada dasarnya memiliki kesamaan dengan pencegahan demam berdarah dengue dan chikungunya.

Karena itu, gerakan bersama di tingkat masyarakat menjadi penting untuk menekan keberadaan nyamuk pembawa penyakit. “Masyarakat harus menyikapi secara proporsional. Kita tidak boleh panik berlebihan, tetapi tetap melakukan tindakan pencegahan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....