Antisipasi Potensi Penularan Zika, Pakar FK Unud Imbau Masyarakat Bali Tak Panik
- 30 Agt 2026 11:31 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Masyarakat diimbau tidak panik menyikapi potensi penularan virus Zika, khususnya di Bali yang menjadi salah satu destinasi wisata dengan mobilitas wisatawan dari berbagai negara. Kewaspadaan tetap diperlukan dengan mengutamakan pencegahan gigitan nyamuk serta menjaga kebersihan lingkungan.
Ketua Unit Travel Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dr. dr. Cokorda Agung Wahyu Purnamasidhi, MBiomed., SpPD, kepada RRI.CO.ID, Jum’at, 28 Agustus 2026 menjelaskan, Zika merupakan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk atau termasuk arthropod-borne disease. Mekanisme penularannya memiliki kemiripan dengan sejumlah penyakit lain yang juga disebabkan oleh gigitan nyamuk.
Menurutnya, Bali perlu memberikan perhatian karena tingginya mobilitas wisatawan. Wisatawan yang datang dari wilayah tertentu berpotensi membawa virus di dalam tubuhnya, sementara nyamuk sebagai vektor penular juga terdapat di Bali.
“Penyakit Zika itu sebenarnya bisa dibilang arthropod-borne, jadi memang ditularkan melalui nyamuk. Mirip demam berdarah dan masih dalam satu golongan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masa dari gigitan nyamuk hingga munculnya manifestasi klinis dapat berlangsung sekitar satu hingga dua minggu. Namun, ia menegaskan, penularan Zika tidak terjadi melalui kontak langsung antarmanusia seperti berjabat tangan atau sekadar bertemu.
“Menular, tapi melalui gigitan nyamuk. Yang perlu digarisbawahi adalah tidak menular lewat salaman atau bertemu langsung,” ungkapnya.
Karena itu, pengendalian populasi nyamuk menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah penyebaran virus Zika. Masyarakat diminta menerapkan pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup wadah yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta menghilangkan genangan air.
Ia mengatakan kondisi cuaca panas yang diselingi hujan dapat mempercepat perkembangbiakan nyamuk. Ketika jumlah vektor meningkat, potensi penularan penyakit yang dibawa nyamuk juga dapat meningkat.
“Solusinya adalah kita tekan vektornya. Karena kalau tidak ada vektornya, tidak ada gigitan vektor, maka tidak akan terjadi penularan,” jelasnya.
Dr. Cokorda juga mengingatkan masyarakat agar tidak memiliki anggapan bahwa nyamuk hanya aktif menggigit pada malam hari. Menurutnya, waktu aktivitas nyamuk dapat beragam sehingga pencegahan gigitan perlu dilakukan secara konsisten.
Selain pemberantasan sarang nyamuk, penggunaan bubuk abate pada tempat yang sesuai serta keterlibatan kader Juru Pemantau Jentik atau Jumantik juga dinilai dapat membantu mengendalikan perkembangbiakan nyamuk. Ia menambahkan, kewaspadaan tidak hanya diperlukan terhadap demam berdarah.
Sebab, sejumlah penyakit lain seperti malaria dan Zika juga dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk. Meski demikian, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak berlebihan dalam menyikapi keberadaan virus Zika.
Menurutnya, penyakit tersebut telah lama dikenal dan banyak dikaitkan dengan mobilitas para pelaku perjalanan atau traveler. “Sebenarnya masyarakat tidak perlu panik, karena penyakit ini sudah lama ada, cuma lebih banyak terjadi pada traveler. Tapi sekarang permasalahannya Bali sebagai destinasi wisata banyak traveler yang datang,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sebelum, selama, dan setelah melakukan perjalanan, terutama bagi mereka yang bepergian ke wilayah dengan risiko penyakit tertentu. “Karena itu saya selalu menyarankan, sebelum bepergian, pada saat bepergian, dan setelah bepergian, lakukan pemeriksaan atau pengecekan kesehatan ke dokter terdekat,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....