DPR RI Dorong Sistem Kredit bagi Pelaku Ekraf

  • 30 Agt 2026 11:01 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Tabanan - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Samuel Wattimena, mendorong adanya sistem pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik pelaku ekonomi kreatif, khususnya artisan yang selama ini menghadapi kendala dalam mengakses kredit perbankan. Hal tersebut disampaikan Samuel Wattimena kepada RRI.CO.ID saat ditemui di Nuanu, Tabanan, Bali, Jumat, 28 Agustus 2026.

Menurutnya, pembahasan mengenai akses kredit bagi artisan dan pelaku ekonomi kreatif telah berlangsung berulang kali, sehingga saat ini diperlukan langkah yang lebih praktis dan terukur. Samuel mengatakan, salah satu hal penting yang perlu diperjelas adalah standar atau capaian yang harus dipenuhi para artisan agar memperoleh kepercayaan dari lembaga perbankan.

“Pertanyaan saya sebetulnya lebih praktis, apa yang harus dicapai oleh para artisan ini atau para pelaku kreatif ini supaya bisa dilirik dan mendapatkan trust dari bank,” ujarnya.

Ia juga menilai ketersediaan data mengenai pelaku ekonomi kreatif yang telah memperoleh akses pembiayaan perlu diperjelas berdasarkan wilayah. Menurutnya, data tersebut penting bagi DPR RI dalam menjalankan fungsi pengawasan sekaligus pembinaan terhadap UMKM dan pelaku ekonomi kreatif di daerah.

Samuel mengungkapkan, data mengenai jumlah pelaku yang telah memperoleh akses pembiayaan perlu diketahui secara lebih terperinci, termasuk persebarannya di berbagai wilayah Indonesia.

“Data ini menjadi penting,” ungkapnya.

Menurut Samuel, tantangan pembiayaan bagi artisan tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan pelaku usaha yang memiliki aset fisik sebagai jaminan. Produk dan karya kreatif memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga diperlukan pendekatan baru dalam membangun kepercayaan antara pelaku kreatif dan perbankan.

Ia menjelaskan, karya yang dihasilkan artisan sebenarnya dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam melihat kapasitas dan rekam jejak seorang pelaku kreatif. “Pelaku kreatif, jaminannya ini kan tidak bisa fisik. Kalau toh fisik, ya lihat karyanya ini. Ini jaminan mereka,” jelasnya.

Samuel mencontohkan seorang pelukis yang telah berkarya selama bertahun-tahun. Menurutnya, rekam jejak dan nilai karya seorang pelaku kreatif dapat menjadi salah satu indikator yang perlu dipertimbangkan dalam membangun sistem kepercayaan.

“Seharusnya bisa di-trace back. Seorang pelukis misalkan, sudah berapa puluh tahun sih mereka melukis? Dan karya lukisnya berada di ranking mana,” katanya.

Ia menilai sistem penilaian terhadap pelaku ekonomi kreatif perlu mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, perubahan dalam dunia kebudayaan dan ekonomi kreatif juga perlu diikuti dengan perubahan cara pandang lembaga formal, termasuk perbankan.

“Memang sistem kepercayaan ini menurut saya tidak bisa menggunakan sistem dari 10, 20, 30 tahun lalu. Ini kan berkembang, kebudayaan berkembang. Nah, pihak bank atau pihak yang lebih formal ini juga harus berkembang cara berpikirnya,” ujarnya.

Samuel menegaskan, DPR RI masih menunggu masukan dari pihak perbankan mengenai standar yang dapat digunakan untuk menilai kelayakan artisan dan pelaku ekonomi kreatif dalam memperoleh pembiayaan. Menurutnya, pemahaman mengenai kebutuhan dan persyaratan dari kedua pihak penting agar kebijakan pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif dapat dirancang secara lebih realistis.

Ia berharap, penguatan data dan perubahan pendekatan dalam menilai pelaku ekonomi kreatif dapat menjadi dasar untuk mendorong akses pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakter industri kreatif. Samuel juga menekankan pentingnya melihat karya dan rekam jejak sebagai bagian dari potensi jaminan atau indikator kepercayaan bagi pelaku ekonomi kreatif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....