Antisipasi Kekeringan, Petani Dimbau Terapkan Varietas Tahan Cuaca

  • 27 Agt 2026 13:11 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Menghadapi ancaman kemarau ekstrem dan keterbatasan pasokan air irigasi, sektor pertanian dituntut menerapkan langkah adaptasi dan mitigasi yang presisi. Langkah ini krusial agar keberlanjutan produksi pangan nasional tidak mengalami penurunan drastis.

Ketua Perhepi Bali sekaligus Rektor Universitas Dwijendra, Prof. Gede Sedana, kepada RRI.CO.ID, Sabtu, 15 Agustus 2026 mengungkapkan bahwa perbaikan infrastruktur fisik dan penggunaan bahan organik menjadi prioritas utama mitigasi kekeringan. Aplikasi pupuk organik secara konsisten dinilai efektif memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan daya simpan air.

“Hal paling sederhana yang harus dilakukan adalah memastikan jaringan irigasi yang terbatas tidak mengalami kebocoran. Selain itu, penggunaan pupuk organik secara jangka panjang maupun pendek sangat penting untuk memperbaiki struktur tanah sehingga mampu menyimpan air saat kemarau ekstrem,” tutur Prof. Gede Sedana.

Ia juga menyarankan para petani di kawasan subak untuk menerapkan rotasi pola tanam dari padi ke komoditas palawija atau hortikultura ketika debit air mulai berkurang drastis. Penanaman palawija seperti kacang-kacangan dan jagung memiliki fungsi ekologis yang signifikan dalam memutus siklus hama serta menyuburkan tanah kembali.

“Pada saat kemarau sangat ekstrem, petani di subak dialihkan untuk menanam palawija seperti kacang-kacangan atau hortikultura seperti semangka dan labu. Langkah ini memutus rantai serangan hama penyakit dan mengikat nitrogen untuk menyuburkan tanah. Swasembada pangan tidak harus dipandang dari satu komoditas padi saja pada satu musim tanam, melainkan keberlanjutan secara menyeluruh,” jelas Prof. Gede Sedana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....