SDN 1 Candikusuma Potret Nyata Moderasi Beragama
- 27 Agt 2026 13:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jembrana - Implementasi moderasi beragama tumbuh subur di lingkungan Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Candikusuma. Keberagaman yang terdiri dari tiga pemeluk agama, yakni Hindu, Islam, dan Kristen, justru menjadi fondasi kuat dalam membangun toleransi serta kerja sama antarsiswa sejak dini.
Guru Agama Hindu SD Negeri 1 Candikusuma, Anak Agung Ketut Ariyanta, Rabu, 12 Agustus 2026 menjelaskan bahwa sikap saling menghormati dan membantu antarumat beragama telah menjadi tradisi yang mengakar selama bertahun-tahun di sekolah tersebut. Hubungan harmonis ini terlihat nyata saat peringatan hari raya keagamaan masing-masing umat.
“Terkait dengan kegiatan keagamaan di sekolah, kami sangat bekerja sama. Pada saat hari raya Hindu seperti Saraswati, siswa Muslim ikut membantu membuat penjor, menanyakan fungsi penjor, hingga belajar memasang janur. Sebaliknya, saat kegiatan peringatan Maulid Nabi bagi umat Islam, siswa yang beragama Hindu juga ikut membantu persiapan pembuatan rontok hiasan telur,” ujar Ariyanta.
Pola kerja sama dan gotong royong ini juga terus dibina saat pelaksanaan kegiatan keagamaan rutin maupun program pembinaan rohani seperti pesantren kilat. Tidak hanya siswa Hindu dan Islam, siswa yang beragama Kristen pun turut terlibat aktif dan bahu-membahu menjaga kelancaran seluruh rangkaian acara di sekolah.
Selain gotong royong dalam persiapan hari besar keagamaan, nilai toleransi di SD Negeri 1 Candikusuma diwujudkan melalui kebijakan penggunaan pakaian adat. Setiap hari Kamis, serta saat perayaan hari suci Purnama dan Tilem, seluruh siswa diwajibkan mengenakan pakaian adat sesuai ajaran dan ketetapan agamanya masing-masing.
“Saat perayaan Purnama dan Tilem, anak-anak yang beragama Hindu mengenakan pakaian adat untuk melakukan persembahyangan di pura. Sementara itu, anak-anak yang beragama Islam menyesuaikan dengan mengenakan busana Muslim berwarna putih dan melakukan doa bersama yang dipimpin oleh guru agama Islam. Di sini ada kebebasan dan rasa saling menghargai yang sangat tinggi,” jelasnya.
Ariyanta menambahkan, pembiasaan toleransi melalui pakaian adat dan keterlibatan dalam perayaan hari besar keagamaan terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar serta mempererat rasa persaudaraan antarpeserta didik. Nilai-nilai moderasi beragama tersebut tidak hanya diterapkan pada kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga diintegrasikan secara langsung dalam proses pembelajaran sehari-hari di kelas.
Pihak sekolah berharap praktik baik moderasi beragama yang telah terbangun di SD Negeri 1 Candikusuma dapat terus dipertahankan dan diteladani. Melalui sinergi yang harmonis antara guru dan siswa, hutan perbedaan yang ada dapat dikelola menjadi energi positif untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang damai, aman, dan saling menghormati.
“Pesannya ke depan, dengan adanya kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ini, anak-anak dapat terus berbaur dan termotivasi. Moderasi beragama harus terus kita jaga bersama agar tumbuh rasa saling menghormati dan saling menjaga di antara anak-anak,” pungkas Anak Agung Ketut Ariyanta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....