Bali Rawan Kekeringan dan Kontras Suhu saat Puncak Kemarau

  • 26 Agt 2026 19:15 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Puncak kemarau pada Agustus hingga Oktober 2026 tidak hanya mengakibatkan Bali mengalami suhu dingin saat malam dan dini hari. Namun, cuaca terik di siang hari juga melanda Bali yang menjadi ciri Pulau Dewata mengalami kontras suhu yang biasa terjadi saat musim kemarau.

Cuaca terik dan kering tersebut memperbesar potensi Bali mengalami kekeringan meteorologis serta kebakaran hutan dan lahan. Kepala Bidang Logistik dan Kedarutan BPBD Provinsi Bali Eka Saputra kepada RRI.CO.ID di Denpasar mengatakan, Bali saat ini telah memasuki puncak kemarau yang akan berlangsung hingga Oktober mendatang.

Ia menjelaskan, saat puncak kemarau, Bali cenderung mengalami sejumlah fenomena yang mengharuskan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan dengan mitigasi potensi bencana hidrometerologi kering. Eka Saputra mengungkapkan, sejumlah wilayah di Jembrana dan Buleleng dilakukan pendistribusian air bersih, lantaran terjadi penurunan debit air hingga mengalami krisis air bersih.

Tidak hanya itu, sebagian wilayah lainnya di Pulau Dewata seperti di Karangasem dan Bangli dengan kondisi geografi dan topografi wilayah yang kering, semak belukar dan kawasan hutan yang luas berpotensi mengalami karhutla akibat hari tanpa hujan yang panjang. “Bali menjadi wilayah yang rawan mengalami kekeringan dan kontras suhu saat Puncak Kemarau. Mitigasi menjadi hal penting khususnya wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan maupun kontras suhu,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bangli I Ketut Agus Sutapa. Ia menjelaskan, Bangli menjadi salah satu wilayah yang rawan mengalami penurunan debit air maupun kebakaran hutan dan lahan.

Agus Sutapa mengakui, dengan bentangan hutan yang luas dan semak belukar yang kering, Kintamani menjadi wilayah yang paling rawan mengalami Karhutla. Terlebih adanya aktivitas pembakaran di lahan – lahan pertanian yang memicu terjadinya kebakaran.

“BPBD Bangli juga menggandeng pengelola kawasan hutan penyangga melakukan patroli dan mengedukasi masyarakat khususnya petani penggarap di wilayah hutan meniadakan pembakaran di lahan garapan saat puncak kemarau,” tuturnya.

Sebagian besar wilayah di Pulau Dewata telah memasuki puncak musim kemarau. Berbagai fenomena menyertai puncak kemarau diantaranya kontras suhu dan potensi bencana hidrometerologi kering. Terlebih saat puncak musim kemarau dengan hari tanpa hujan yang panjang.

Suhu udara saat malam hari bahkan bisa mencapai 20 derajat Celsius, sementara di siang hari dikisaran 32 derajat hingga 33 derajat Celsius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....