Ketersediaan Air Bali Jadi Perhatian, PJT I Perkuat Pengelolaan WS Bali-Penida

  • 21 Agt 2026 10:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Perum Jasa Tirta I atau PJT I memperkuat kontribusinya dalam pengelolaan sumber daya air nasional melalui pengelolaan di Wilayah Sungai (WS) Bali-Penida. Direktur Operasional PJT I, Milfan Rantawi mengatakan, pengelolaan tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2026 yang diterbitkan 22 April 2026. Kehadiran PJT I di WS Bali-Penida menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sumber daya air yang terpadu, berkelanjutan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta perkembangan perekonomian di Bali.

“Kehadiran PJT I di WS Bali-Penida ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sumber daya air yang terpadu, berkelanjutan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta perkembangan perekonomian di Bali,” jelas Milfan, Kamis 20 Agustus 2026.

Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air WS Bali-Penida PJT I, Hamim Ghufroni Kepada RRI mengatakan, PJT I siap membawa pengalaman pengelolaan lima wilayah sungai eksisting untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan di WS Bali-Penida. Salah satu fokus yang diperkuat adalah sistem informasi sumber daya air melalui pengembangan Smart Water Management System atau SWMS dan pemanfaatan teknologi telemetri.

"Kita ada program yang pertama adalah studi, ada dua studi. Terus kemudian kita mulai memasang peralatan telemetri. Ada stasiun pemantau curah hujan dua unit dan pemantau elevasi muka air sungai dua unit," jelas Hamim.

VP Regional III PJT I, Didik Ardianto mengungkapkan, pengelolaan sumber daya air di WS Bali-Penida menghadapi tantangan hidrologis yang signifikan akibat fluktuasi ketersediaan air antara musim penghujan dan kemarau. Pada musim penghujan, curah hujan tahunan yang mencapai lebih dari 2.000 milimeter seringkali menyebabkan surplus aliran permukaan yang memicu banjir di beberapa wilayah, kondisi yang semakin kompleks dengan adanya peningkatan laju alih fungsi lahan.

"Pada musim penghujan, tingginya curah hujan tahunan yang mencapai lebih dari 2.000 mm seringkali menyebabkan surplus aliran permukaan yang memicu banjir di beberapa wilayah. Kondisi ini juga menjadi semakin kompleks dengan adanya peningkatan laju alih fungsi lahan," ujarnya.

Memasuki musim kemarau, tantangan beralih pada defisit neraca air yang tersebar di hampir seluruh zona WS Bali-Penida, dengan tekanan terbesar berada di Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan atau Zona Sarbagita yang mengalami kekurangan air signifikan untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan industri. Untuk menjawab tantangan tersebut, PJT I akan memperkuat sistem hidrometeorologi melalui implementasi SWMS untuk melakukan pemantauan dan prediksi hujan dan debit.

Dalam pelaksanaannya, PJT I juga akan memperkuat kolaborasi dengan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air, BWS Bali-Penida, Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten/kota serta pemangku kepentingan lainnya. Untuk pemenuhan air baku, PJT I akan berupaya seoptimal mungkin mendukung kebutuhan masyarakat, industri hingga sektor pariwisata.

Selain itu, konservasi juga akan didorong untuk mempertahankan tutupan lahan, mencegah bertambahnya lahan kritis serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan. "Kegiatan konservasi tentunya juga perlu kita galakkan supaya lahan kritis tidak bertambah. Air hujan yang turun tidak langsung mengalir ke sungai kemudian ke laut, tetapi semakin banyak yang diserap ke tanah dan menjadi imbuhan air," pungkas Hamim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....