Mahasiswa Unud Edukasi Lebah Kelulut, Maggot, dan Pengolahan Limbah di Buleleng

  • 20 Agt 2026 07:28 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Buleleng – Mahasiswa KKN-PPM Universitas Udayana (Unud) Desa Galungan melaksanakan kegiatan edukasi kepada masyarakat mengenai budidaya lebah kelulut, pengolahan limbah kotoran ternak, dan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah unsur masyarakat dan perangkat Desa Galungan, di antaranya staf Desa Galungan, Ketua BPD, Direktur BUMDes, Kelian Subak, kelompok PKK, STT Desa Galungan, serta kelompok tani-ternak. Kegiatan turut didampingi Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Gede Surya Indrawan, S.Si., M.Si., serta menghadirkan narasumber I Ketut Putra Juliantara, S.Pd., M.Si., yang merupakan dosen Fakultas MIPA Universitas Udayana.

I Ketut Putra Juliantara menjelaskan potensi lebah tak bersengat atau lebah kelulut sebagai peluang usaha sekaligus bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Ia menjelaskan dua jenis lebah yang menjadi fokus pembahasan, yaitu Tetragonula laeviceps dan Heterotrigona itama.

Berdasarkan materi yang disampaikan, Kele Bali (Tetragonula laeviceps) dapat menghasilkan sekitar 250 ml madu per koloni dalam enam bulan, sedangkan Kele Itama (Heterotrigona itama) dapat menghasilkan sekitar 500 ml madu per koloni dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan. Selain jenis lebah, sumber pakan berupa nektar, polen, dan resin juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas madu.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai potensi pemanfaatan madu kelulut pada kegiatan edukasi tanggal 08 Agustus 2026. Tidak hanya membahas lebah kelulut, mahasiswa KKN-PPM Unud juga memberikan edukasi mengenai pengolahan limbah kotoran ternak dan budidaya maggot BSF.

Materi tersebut disampaikan oleh Abraham Simeon KS, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Abraham menjelaskan bahwa limbah kotoran ternak seperti sapi, kambing, dan babi dapat menimbulkan berbagai persoalan apabila tidak dikelola dengan baik, seperti bau tidak sedap, pencemaran lingkungan, serta menjadi tempat berkembangnya hama.

“Limbah kotoran bisa diolah melalui proses fermentasi sederhana menggunakan dekomposer dengan mengubah limbah kotoran menjadi pupuk organik selama dua hingga tiga minggu, baik dari skala besar maupun rumahan. Dari proses fermentasi bisa menjadi pupuk organik yang aman, bebas patogen, menyuburkan tanaman perkebunan seperti cengkeh, kopi, durian, alpukat, dan manggis, sekaligus mendukung hasil panen yang lebih baik dan ramah lingkungan,” ujar Abraham.

Selain pengolahan kotoran ternak, masyarakat juga diperkenalkan dengan pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Larva BSF dapat memanfaatkan limbah organik sebagai sumber makanan dan kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak serta sebagai bahan pendukung pembuatan pupuk organik.

“Maggot dapat digunakan sebagai pakan ikan dan ternak serta pupuk organik karena lalat BSF tidak menularkan penyakit,” katanya.

Melalui kegiatan edukasi tersebut, mahasiswa KKN-PPM Unud berharap masyarakat Desa Galungan dapat mulai memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar secara lebih optimal pada Selasa, 18 Agustus 2026. Pemanfaatan lebah kelulut, maggot, serta pengolahan limbah kotoran ternak diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif yang mendukung kegiatan pertanian dan peternakan masyarakat sekaligus mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....