Krisis Air Jembrana, Warga Terpaksa Minum Air Kubangan

  • 16 Agt 2026 09:59 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jembrana - Bencana kekeringan parah kembali menelan korban kesejahteraan warga. Di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, krisis air bersih telah berlangsung lebih dari sepekan akibat mengeringnya sumber mata air pegunungan yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan harian masyarakat.

Tanpa adanya pasokan air bersih yang mengalir ke pemukiman, warga tidak lagi memiliki pilihan. Demi bertahan hidup, mereka terpaksa memanfaatkan air kubangan keruh yang berada di tengah lahan pertanian untuk keperluan konsumsi, mulai dari memasak hingga dijadikan air minum.

Tak hanya itu, kubangan yang sama juga diandalkan untuk mandi dan mencuci pakaian karena aliran sungai sekitar telah mengering total. Guna mengumpulkan liter demi liter air keruh tersebut ke dalam galon dan jeriken, warga rela menempuh medan berat dengan berjalan kaki bolak-balik sejauh lebih dari dua kilometer.

Biang Kadek Wiring, warga Banjar Pendem, menuturkan perjuangannya menembus jarak demi air yang sebenarnya tak layak konsumsi tersebut. "Saya jalan dua kilometer tiap hari, pagi dan sore. Airnya dipakai untuk mandi, mencuci, masak, sampai minum, tapi harus dimasak dulu. Krisis ini sudah ada semingguan. Saya jalan kaki ke sini karena tidak punya sepeda," ujar Biang Kadek.

Senada dengan Biang Kadek, Ni Komang Suniti dari Banjar Benel mengungkapkan bahwa tersumbatnya pipa mata air gunung telah mematikan total akses air di wilayahnya. "Sudah seminggu tidak ada air, karena air gunung macet akibat kekeringan. Air (kubangan) ini terpaksa dipakai untuk mandi, mencuci, minum, dan lainnya," tuturnya.

Saat ini, masyarakat Desa Manistutu hanya bisa berharap adanya distribusi bantuan darurat mendesak sebelum krisis sanitasi dan kesehatan yang lebih parah melanda wilayah mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....