Dua Desa dan Tiga Seniman di Batur Terima Penghargaan

  • 11 Agt 2026 06:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Bangli — Desa Adat Batur memberikan penghargaan kepada dua desa adat dan tiga seniman yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan serta pemajuan kebudayaan Batur. Penghargaan tersebut diserahkan dalam penutupan Batur Village Festival 2026 di Jaba Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Sabtu 08 Agustus 2026.

Dua desa adat yang menerima penghargaan tertinggi Batur Paramanugraha adalah Desa Adat Bayung Gede dan Desa Adat Kintamani. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas sumbangsih kedua desa dalam membantu evakuasi dan relokasi Desa Adat Batur serta Pura Ulun Danu Batur setelah peristiwa Rarud Batur pada 1926.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Palinggih Dane Jero Gede Duhuran Batur. Selain Batur Paramanugraha, Desa Adat Batur juga menganugerahkan Batur Kawinugraha kepada tiga seniman yang dinilai berkontribusi dalam pemajuan kebudayaan Batur.

Ketiganya adalah Pande Putu Abdi Jaya Prawira, S.S., M.Hum., seorang sastrawan; Dr. I Wayan Suharta, S.S.Kar., M.Si., seniman karawitan; serta Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.S.T., M.Si., seniman tari.

Pande Putu Abdi Jaya Prawira dikenal sebagai sastrawan Bali yang mengarang Kakawin Kretanjali Ida Bhatari Sakti Batur. Kakawin tersebut terdiri atas 11 bait dan secara khusus ditujukan sebagai bentuk pemujaan kepada Ida Bhatari Sakti Batur.

Sementara itu, I Wayan Suharta dan Ida Ayu Trisnawati merupakan pencipta tari dan tabuh Tirtha Mahamreta Pratistha. Karya tersebut lahir sebagai respons terhadap konsep spiritual Batur yang mengagungkan 11 air suci atau tirta solas milik Ida Bhatari Batur.

Tari dan tabuh tersebut lahir melalui program Nawacitta Swabudaya ISI Bali di Desa Adat Batur dan kini menjadi salah satu maskot Desa Adat Batur.

Jero Gede Duhuran Batur dikonfrimasi menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan Batur Village Festival 2026. Festival tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Rarud Batur.

Menurutnya, peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjuangan leluhur Batur dalam bertahan dan bangkit setelah erupsi Gunung Batur pada 1926. "Seperti yang telah diketahui, Peringatan 100 Tahun Rarud Batur merupakan kegiatan yang digelar sebagai momentum mengingat perjuangan leluhur Batur bertahan dan bangkit pascaerupsi Gunung Batur pada 1926," katanya, Senin 10 Agustus 2026.

Ia menegaskan, keberlangsungan Batur hingga saat ini tidak terlepas dari jalinan kekerabatan antara Batur dengan pemerintah, puri, dan desa-desa sahabat yang telah dibangun sejak masa leluhur. "Semua yang telah dilalui Batur selama ini, hingga kami bisa bertahan dari bencana, adalah buah dari hubungan yang lekat dengan berbagai unsur yang telah dilakukan sejak lama oleh leluhur kami," ujarnya.

Jero Gede Duhuran Batur mengatakan, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan hubungan baik tersebut sebagai bagian dari ayah-ayahan kepada Ida Bhatari. Ia juga menyampaikan harapan agar seluruh masyarakat mendapat anugerah dan kesejahteraan.

"Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa memberi anugerah, sehingga semua tanaman menghasilkan panen yang baik dan semua pekerjaan berpahala yang baik," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....