Enam Curik Bali Dilepasliarkan, Kolaborasi Perkuat Konservasi Satwa Endemik

  • 09 Agt 2026 09:56 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Tabanan - Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan (YPAK) bersama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali melaksanakan kegiatan pelepasliaran Curik Bali (Leucopsar rothschildii) sebagai bagian dari upaya pelestarian satwa endemik Pulau Bali. Kegiatan itu sekaligus memperkuat konservasi keanekaragaman hayati di habitat alaminya, yaitu di Br.Utu Desa Babahan, Pura Luhur Besi Kalung, Kec. Penebel, Kab. Tabanan, dalam rangka Road to HKAN 2026; “Satwa dilindungi bukan Peliharaan”.

Kegiatan pelepasliaran ini merupakan wujud sinergi antara pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga keberlangsungan populasi Curik Bali (Leucopsar rothschildii) yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu satwa dilindungi di Indonesia. Curik Bali yang dilepasliarkan sebanyak tiga pasang (enam ekor), berasal dari penangkaran di Jawa Barat.

Sebelum dilepasliarkan, seluruh individu Curik Bali telah melalui proses pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, serta tahapan adaptasi untuk memastikan kesiapan hidup di alam liar. Dalam pelepasliaran ini dihadiri oleh tokoh YKI Prof Jatna selaku Dewan Pembina, ibu Meidy Selaku Selaku Direktur Konservasi Indonesia (KI), kegiatan ini dihadiri dari Yayasan Konservasi Indonesia yang hadir sejumlah 180 orang, dari 18 Provinsi di Indonesia, Prof. Dra, Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni, M.Sc., Ph.D Kepala PUP Ornhithologist Universitas Udayana.

Dalam kesempatan tersebut hadir Perbekel Desa Babahan bapak Made Sukapariana, S.E., dan menyampaikan dukungannya bahwa Desa Adat mendukung keberlangsungan Curik Bali melalui adanya Perarem Desa adat dan menyampaikan terima kasih dengan pelepasliaran Curik Bali di wilayahnya serta menerima Cinderamata dari Balai KSDA Bali berupa Canvas Curik Bali. Ketua Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan (YPAK), drh. Bayu Wirayudha menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen nyata Yayasan dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa langka.

Dalam kegiatan ini, Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan berkolaborasi dengan Konservasi Indonesia. Konservasi Indonesia mengagendakan pelepasliaran Curik Bali ini sebagai bagian dari acara gathering di Bali dengan perwakilan dari berbagai lokasi kerja yang meliputi Wilayah Paparan Sunda, Wilayah Sunda Banda, dan Wilayah Sahul Papua. Tahapan pelepasliaran sudah dilakukan; yaitu Survey lokasi untuk menentukan titik pelepasliaran, pakan alami, sumber air, aman dari perburuan dan dapat dukungan dari masyarakat, koordinasi dengan perbekel setempat, sebelum pelepasliaran, satwa dilakukan pemeriksaan kesehatannya, dilakukan habituasi di lokasi pura Luhur Besi Kalung Penebel serta observasi 10 hari, setelah berada di alam liar 2 minggu pasca pelepasliaran satwa akan kembali dilakukan pemantauan untuk mengetahui kesesuaian dan kemampuan adaptasi serta interaksi satwa terhadap lingkungan barunya tersebut.

Pada saat dilepasliarkan kondisi satwa dalam keadaan sehat, telah dilakukan pemeriksaan kesehatannya oleh Tim Veteriner dari FNPF. Kolaborasi ini selain melepasliarkan 6 ekor Curik Bali (Leucopsar rothschildii) juga melepaskan 2 ekor jenis Celepuk Reban (Otus lempiji).

“Pelepasliaran Curik Bali bukan hanya tentang mengembalikan burung ke habitatnya, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi dalam menjaga warisan alam Bali untuk generasi mendatang. Kami berharap masyarakat turut berperan aktif menjaga habitat serta mencegah segala bentuk perburuan dan perdagangan satwa liar secara ilegal,” ujar drh. Bayu

Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko menegaskan bahwa keberhasilan program konservasi tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang dilepasliarkan, tetapi juga dari tingkat keberhasilan satwa tersebut beradaptasi dan berkembang biak di habitat alaminya. “Keberhasilan konservasi memerlukan dukungan semua pihak. Melalui kerja sama ini, kami berharap populasi Curik Bali di alam dapat terus meningkat sehingga kelestariannya tetap terjaga. Pada tanggal 17 Agustus 2026, kami akan mengusulkan kepada Bapak Menteri Kehutanan untuk ditetapkan sebagai “Hari Curik Bali Nasional,” ungkap Kepala BKSDA Bali.

Curik Bali (Leucopsar rothschildii) merupakan burung endemik Pulau Bali yang memiliki ciri khas bulu putih bersih dengan ujung sayap dan ekor berwarna hitam serta kulit biru di sekitar mata. Spesies ini menjadi Ikon Konservasi Indonesia karena populasinya di alam pernah mengalami penurunan drastic akibat hilangnya habitat dan perburuan liar.

Melalui kolaborasi antara Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan bersama BKSDA Bali, diharapkan upaya konservasi Curik Bali dapat terus berkelanjutan serta menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....