Puluhan Sekolah di Bali Komit Lindungi Hak Ekologis Anak
- 01 Agt 2026 17:13 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali berkolaborasi dengan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, dan Aliansi Zero Waste Indonesia resmi memulai Program Sekolah Ekologis periode 2026-2027. Kegiatan ini diawali dengan Kick-Off Program Sekolah Ekologis yang dirangkaikan dengan Training of Trainers (ToT) Penggunaan Modul Sekolah Ekologis di Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali.
Kegiatan yang diselenggarakan pada 31 Juli –1 Agustus 2026 ini diikuti oleh 33 guru dari jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang merupakan peserta Program Sekolah Ekologis 2026 - 2027. Tujuan kegiatan ini untuk Memperkenalkan Program Sekolah Ekologis periode 2026 - 2027 serta mekanisme pelaksanaannya kepada seluruh sekolah peserta, Meningkatkan kapasitas guru dalam memahami dan menggunakan Modul Sekolah Ekologis, Memperkuat kemampuan guru dalam mengintegrasikan isu pengelolaan sampah, keanekaragaman hayati, energi terbarukan, dan kantin sehat ke dalam pembelajaran dan budaya serta Mendorong kolaborasi antarguru serta penyusunan rencana tindak lanjut implementasi Modul Sekolah Ekologis sesuai dengan konteks sekolah masing - masing.
Kick-Off Program Sekolah Ekologis ditandai dengan menampilkan video “Aksi Serentak 33 Sekolah di Hari Anak: Stop Wariskan Lingkungan Rusak Pada Kami!”. Selanjutnya, pemetaan sumber daya alam dan tantangan di setiap kabupaten.
Penting bahwa guru mengenalkan sumber alam kepada murid-murid agar ikut melindungi. Sebagai bekal dalam mengimplementasikan Program Sekolah Ekologis di sekolah masing-masing, para peserta mengikuti pendalaman materi mengenai empat tema utama dalam Modul Sekolah Ekologis, yaitu Sampah dan Pengelolaannya, Konservasi Keanekaragaman Hayati, Pangan Sehat, Energi Terbarukan, serta menyusun rencana implementasi Program Sekolah Ekologis berdasarkan hasil pemetaan kondisi sekolah dan potensi lingkungan di setiap pembahasan masing-masing tema modul.
Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, menyampaikan bahwa pendidikan lingkungan dan konservasi perlu menjadi bagian dari pembentukan karakter sejak usia dini. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat maupun pemerintah Provinsi Bali untuk memperkuat pendidikan karakter lingkungan melalui muatan lokal di sekolah.
“Yang harus kita bangun adalah karakter sejak usia dini. Sekolah-sekolah peserta Program Sekolah Ekologis akan menjadi model dalam mengedukasi generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Dwi Arbani.
Dalam materinya mengenai Kondisi Persampahan Provinsi Bali, Dwi Arbani juga menyampaikan bahwa Bali saat ini tengah menghadapi krisis sampah. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya mendukung pelaksanaan Program Sekolah Ekologis PPLH Bali agar sekolah seluruh Bali memiliki model penanganan sampah yang terukur secara aktual dan transparan di era digitalisasi saat ini.
Salah satu peserta berbagi pengalaman mengenai persoalan lingkungan yang terjadi di sekitar sekolahnya. Ni Wayan Aniek Ferdiantini dari SDN 6 Singakerta menyampaikan bahwa pembakaran sampah yang dilakukan di area dekat sekolah sempat menyebabkan asap masuk ke lingkungan sekolah dan dikhawatirkan berdampak pada kesehatan peserta didik.
Setelah persoalan tersebut disampaikan melalui media sosial, dinas terkait bersama pihak kecamatan menindaklanjuti dengan melakukan pengangkutan sampah. Meskipun pembakaran telah dihentikan, penimbunan sampah masih menjadi perhatian masyarakat sekitar.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH Bali), Catur Yuda Hariyani bahwa pencemaran yang dilakukan di lingkungan padat penduduk, memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap tumbuh kembang anak. Seperti halnya di desa Cinangka - Bogor anak - anak yang berjumlah puluhan orang, terserang penyakit seperti keterbelakangan mental hingga cacat fisik, bahkan ada yang meninggal dunia.
Catur, berharap Program Sekolah Ekologis dapat menjadi langkah nyata dalam membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan. “Kami ingin seluruh sekolah terdorong untuk memberikan pendidikan lingkungan sejak usia dini. Melalui Program Sekolah Ekologis, Kami percaya bahwa setiap anak berhak hidup di lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan berkelanjutan. Modul Sekolah Ekologis hendaknya bisa menjadi referensi untuk diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran agar dapat mengembangkan karakter mulia seperti jujur, disiplin, gotong royong, cinta lingkungan serta dapat berpikir kritis untuk memahami masalah lingkungan sehingga dapat mencari solusi yang terbaik. Menjaga lingkungan menjaga masa depan anak” ujar Catur Yuda Hariyani.
Koordinator Program Sekolah Ekologis, Gek Rin, berharap melalui kegiatan ini para guru dapat mengambil praktik baik aksi dari materi dan metode penggunaan Modul Sekolah Ekologis. “Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran, diskusi, dan menginspirasi dalam penyusunan rencana lanjutan implementasi program di masing-masing sekolah,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....