Plastik Sekali Pakai Dominasi Sampah Sungai di Bali

  • 31 Jul 2026 15:29 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Plastik sekali pakai menjadi jenis sampah yang paling banyak mencemari aliran sungai di Bali. Sampah seperti plastik kresek, kemasan saset, dan plastik bening mudah terbawa arus hingga menumpuk di kawasan mangrove sebelum akhirnya berpotensi hanyut ke laut.

Manajer Lapangan Sungai Watch, I Made Dwi Bagiasa, mengatakan, plastik sekali pakai menjadi jenis sampah yang paling sering ditemukan saat pemantauan maupun pembersihan sungai. Menurutnya, jenis sampah tersebut ringan sehingga mudah mengikuti arus air dan akhirnya tersangkut di kawasan mangrove.

"Yang jadi permasalahan dengan jaring kita adalah ketika yang hanyut di aliran sungai itu adalah plastik kresek, saset, plastik bening. Jadi itu akan mengikuti arah air, dia sangat fleksibel. Dan yang terjadi adalah itu yang memenuhi mangrove kita sekarang."

Ia menjelaskan, tidak semua sampah dapat tertahan di jaring penghalang yang dipasang Sungai Watch. Sebagian sampah terus hanyut hingga mencemari kawasan pesisir bahkan berpotensi terbawa ke laut.

"Itu yang tersangkut, bagaimana dengan yang hanyut sampai ke samudera kita. Jenis sampah yang paling parah itu plastik kresek, saset, dan pempers."

Menurut Dwi Bagiasa, tumpukan sampah plastik tidak hanya mengotori kawasan mangrove, tetapi juga menghambat pertumbuhan tanaman. Akar mangrove yang tertutup sampah plastik sulit tumbuh secara alami sehingga memengaruhi keseimbangan ekosistem di sekitarnya.

"Kenapa kita harus menjaga mangrove? Untuk tanaman mangrove tentunya akan berdampak juga, karena ada beberapa jenis mangrove yang akan mati ketika akarnya ditutupi sampah plastik. Ketika daratan rawa-rawa itu ditutupi plastik, mangrove tidak akan bisa tumbuh alami."

Ia menambahkan, dampak pencemaran plastik juga dirasakan oleh berbagai biota yang hidup di kawasan mangrove. Penurunan kualitas air membuat sejumlah jenis ikan semakin sulit ditemukan, sementara kepiting dan udang terancam kehilangan habitatnya.

"Kemudian yang sangat berdampak sekali adalah ekosistem. Kualitas air menurun, yang terjadi adalah beberapa jenis ikan sudah langka. Kemudian kepiting, udang itu ke depan akan tereliminasi dari mangrove kita. Sangat berdampak sekali plastik-plastik ini."

Selain melakukan pembersihan sungai, Dwi Bagiasa menilai penanganan sampah perlu diperkuat melalui penegakan aturan. Menurutnya, pemerintah perlu memperjelas pembagian kewenangan agar penanganan pelanggaran lingkungan dapat dilakukan secara lebih efektif.

"Dan poinnya adalah pemerintah harus tegas siapa yang bisa berwenang menangani hal ini. Karena yang terjadi saat ini adalah semua saling lempar tanggung jawab."

Ia juga mendorong keterlibatan desa adat dalam upaya menjaga kebersihan sungai karena memiliki kedekatan dengan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, desa adat, komunitas, dan masyarakat dinilai penting agar pencemaran sungai dapat dicegah sejak dari sumbernya.

"Kemudian harus melibatkan desa adat, ketika yang paling dekat dengan masyarakat kita di Bali adalah adat. Bali harus solid, berkolaborasi antara adat dan dinas dalam menjaga lingkungan."

Menurut Dwi Bagiasa, menjaga sungai dari sampah plastik bukan hanya untuk mempertahankan kebersihan lingkungan, tetapi juga melindungi kawasan mangrove sebagai penyangga ekosistem pesisir. Upaya tersebut dinilai penting agar fungsi mangrove sebagai habitat berbagai biota dan pelindung wilayah pesisir tetap terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....