Ny. Putri Koster Tekankan Peran Orang Tua Membentuk Generasi Unggul

  • 31 Jul 2026 15:30 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Karangasem – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, menegaskan peran orang tua menjadi faktor utama dalam membentuk karakter dan masa depan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Hal tersebut disampaikannya dalam refleksi Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Provinsi Bali Tahun 2026 yang digelar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bali, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Rabu 29 Juli 2026.

Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, peringatan HAN menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian seluruh elemen masyarakat terhadap pemenuhan hak anak, perlindungan anak, serta penciptaan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Dalam kesempatan tersebut, Ny. Putri Koster yang hadir sebagai pembicara utama menyampaikan bahwa Hari Anak Nasional tidak hanya menjadi momen untuk memberikan perhatian kepada anak, tetapi juga menjadi ajang evaluasi bagi orang tua dalam menjalankan pola pengasuhan.

Menurutnya, tantangan pengasuhan saat ini semakin kompleks karena anak-anak dari Generasi Z dan Generasi Alfa tumbuh dalam lingkungan yang tidak terlepas dari teknologi digital. "Orang tua harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tidak hanya melindungi anak dari dampak negatif teknologi dan media sosial, tetapi juga membimbing mereka agar mampu tumbuh mandiri dan bertanggung jawab," ujar Ny. Putri Koster.

Ia menilai Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya nyata pemerintah dalam memperluas akses pendidikan, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Kehadiran fasilitas pendidikan yang dilengkapi dengan asrama dinilai memberikan kesempatan lebih besar bagi anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.

"Ibu baru pertama kali datang ke sini, dan sekolah ini luar biasa. Anak-anak sudah difasilitasi negara," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ny. Putri Koster mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, keluarga menjadi tempat pertama bagi anak dalam mengenal nilai, sikap, dan tanggung jawab.

Ia menegaskan, menyayangi anak bukan berarti memanjakan, begitu pula melindungi anak bukan berarti memberikan perlindungan secara berlebihan hingga menghambat kemandirian. "Dulu anak diajarkan untuk mengakui kesalahan dengan ikhlas. Sekarang, tidak jarang anak tidak mau disalahkan, bahkan orang tua ikut menyalahkan guru atau sekolah," katanya.

Ia juga mengajak para orang tua menjadikan pendidikan anak sebagai investasi masa depan dengan memprioritaskan kebutuhan pendidikan dibandingkan kepentingan pribadi. Keteladanan orang dewasa, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak.

Melalui pendidikan dan pembentukan karakter yang kuat, generasi muda Bali diharapkan mampu tumbuh menjadi sumber daya manusia unggul yang berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas. Dalam kesempatan itu, Ny. Putri Koster juga menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui program “Satu Keluarga Satu Sarjana”.

Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memastikan anak-anak Bali memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Provinsi Bali, A.A. Sagung Mas Dwipayani, mengatakan peringatan HAN 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memenuhi hak dan perlindungan anak.

Ia menegaskan, anak bukan hanya objek perhatian, melainkan individu yang memiliki hak untuk dihormati, didengar pendapatnya, memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, serta tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang. "Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal serta memperoleh kesempatan meraih masa depan yang lebih baik," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....