Program Satu Keluarga Satu Sarjana Jadi Prioritas Pembangunan SDM Bali
- 30 Jul 2026 06:26 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Pemerintah Provinsi Bali menjadikan Program Satu Keluarga Satu Sarjana sebagai salah satu prioritas pembangunan sumber daya manusia (SDM) berbasis desa. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Bali.
Gubernur Bali Wayan Koster, mengatakan pembangunan desa tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus dibarengi peningkatan kualitas SDM agar masyarakat mampu mengembangkan potensi daerahnya secara mandiri. Hal tersebut disampaikan saat memberikan arahan dalam peluncuran Program Pengabdian Masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera yang melibatkan 38 perguruan tinggi se-Bali, Kamis 15 Juli 2026.
Menurut Koster, pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat desa, salah satunya melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana. Selain itu, Pemprov Bali juga memberikan insentif khusus bagi keluarga dengan anak bernama Nyoman dan Ketut sebagai upaya melestarikan sistem penamaan tradisional Bali yang mulai mengalami penurunan.
“Mulai tahun ini diterapkan program insentif untuk Nyoman dan Ketut. Sudah didata hingga ke desa-desa, terutama bagi keluarga yang kurang mampu. Ini merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya Bali,” ujarnya.
Ia menilai pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat sehingga pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan ekonomi, tetapi juga menjaga identitas budaya Bali. Dalam kesempatan tersebut, Koster mengungkapkan lebih dari 12.000 mahasiswa dan sekitar 900 dosen pembimbing lapangan dari 38 perguruan tinggi diterjunkan ke desa-desa di seluruh Bali melalui Program Desa Kerthi Bali Sejahtera.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi menjadi kekuatan strategis dalam mendukung percepatan pembangunan desa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap mahasiswa mampu menjadi agen perubahan dengan menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan di desa, mulai dari pengelolaan sampah, penguatan UMKM, pertanian organik, hingga pelestarian adat dan budaya.
"Mahasiswa harus menjadi pembelajar yang rendah hati, problem solver, inovator, sekaligus calon pemimpin yang memiliki kepedulian sosial dan semangat gotong royong," katanya.
Koster menambahkan, pembangunan Bali ke depan akan terus diarahkan pada penguatan desa sebagai pusat pertumbuhan dengan mengintegrasikan pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta penguatan nilai-nilai budaya dalam satu kesatuan pembangunan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....