Kemenham Wilker Bali Manfaatkan MPLS Perkuat Budaya Anti-Bullying di Sekolah
- 14 Jul 2026 04:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar - Kantor Wilayah Kementerian HAM NTT Wilayah Kerja Bali (Kemenham Wilker Bali) berpartisipasi sebagai narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di 12 SMA yang tersebar di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Tabanan, dan Kabupaten Gianyar. Kemenham Wilker Bali memberikan materi terkait pencegahan bullying dan cyberbullying sebagai bagian dari penguatan budaya penghormatan terhadap hak asasi manusia di lingkungan sekolah.
Pada hari pertama pelaksanaan, Senin 13 Juli 2026, tim Kemenham Wilker Bali secara serentak memberikan materi di SMA (SLUA) Saraswati 1 Denpasar, SMAN 3 Denpasar, SMAN 4 Denpasar, dan SMAN 6 Denpasar. Rangkaian edukasi HAM dalam MPLS ini akan berlanjut di 8 sekolah lainnya hingga Kamis 16 Juli 2026.
Kehadiran Kemenham Wilker Bali dalam MPLS merupakan bentuk dukungan terhadap terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Melalui materi yang disampaikan, para peserta didik diajak memahami pentingnya menghormati hak setiap orang, membangun relasi yang sehat dengan sesama, serta menggunakan media digital secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Koordinator Wilayah Kerja Bali, Anak Agung Gede Ngurah Dalem, mengatakan bahwa sekolah merupakan tempat yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai HAM kepada generasi muda. Menurutnya, pemahaman mengenai bullying dan cyberbullying bukan hanya bertujuan mencegah terjadinya kekerasan, tetapi juga membangun budaya saling menghormati di lingkungan pendidikan.
"MPLS adalah momentum yang sangat baik untuk membentuk karakter peserta didik sejak hari pertama mereka berada di lingkungan sekolah. Kami ingin para siswa memahami bahwa menghormati hak orang lain dimulai dari hal-hal sederhana, seperti tidak melakukan perundungan, menghargai perbedaan, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Ketika nilai-nilai tersebut tertanam sejak awal, sekolah akan menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang setiap anak," ujarnya.

Selain menjelaskan bentuk, penyebab, dan dampak bullying maupun cyberbullying, para narasumber juga mengajak siswa memahami peran mereka dalam mencegah perundungan, baik dengan tidak menjadi pelaku, tidak menjadi penonton yang diam, maupun berani memberikan dukungan kepada korban dan melaporkan apabila menemukan tindakan perundungan.
Para peserta menyambut positif materi yang disampaikan narasumber dari Kemenham Wilker Bali. Mereka menilai penyampaian materi berlangsung interaktif, mudah dipahami, serta memberikan pemahaman baru mengenai hak asasi manusia, bahaya bullying dan cyberbullying, hingga pentingnya membangun budaya saling menghormati di lingkungan sekolah. Sejumlah siswa mengaku semakin memahami bahwa tindakan perundungan dapat menimbulkan dampak psikologis bagi korban dan berharap dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan bullying di sekolah masing-masing.
Salah seorang siswa SMAN 3 Denpasar, Vidyaka Pratama, mengatakan materi tersebut memberikan motivasi bagi peserta didik untuk menjadi agen perubahan dalam mencegah perundungan.
"Materi ini sangat bermanfaat supaya kita tidak menjadi pelaku ataupun korban bullying. Jangan sampai ada perundungan antar teman yang membuat seseorang trauma datang ke sekolah. Saya berharap kami bisa menjadi agen perubahan untuk mencegah bullying, karena kalau semakin banyak yang peduli, angka bullying di Indonesia juga akan semakin berkurang," ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan pihak sekolah yang menilai materi anti-bullying selaras dengan upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Kehadiran Kemenham Wilker Bali dinilai memberikan perspektif baru kepada siswa bahwa perundungan bukan sekadar persoalan kedisiplinan, tetapi juga berkaitan dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana SMA (SLUA) Saraswati 1 Denpasar, Anak Agung Ayu Mas Sukmawati, mengapresiasi kontribusi Kemenham Wilker Bali dalam kegiatan MPLS tahun ini.
"Terima kasih kepada tim Kemenham Wilker Bali yang telah hadir memberikan materi anti-bullying kepada siswa baru. Melalui penyampaian yang interaktif, para siswa dapat memahami bahwa bullying merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia dan menyadari bahwa perilaku tersebut sangat berbahaya sehingga harus dicegah bersama," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....