Kementerian Agama: Hari Raya Kuningan Wujudkan Dharma dalam Kehidupan

  • 29 Jun 2026 07:50 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Hari Raya Kuningan tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian penutup Hari Raya Galungan, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memperteguh kemenangan dharma atas adharma dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan ritual keagamaan, melainkan diwujudkan melalui sikap hidup yang harmonis, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan.

Penyuluh Ahli Madya Kementerian Agama Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., Kepada RRI.CO.ID, Jum’at, 26 Juni 2026 mengatakan Hari Raya Kuningan merupakan waktu bagi umat Hindu untuk menghayati sekaligus menguatkan makna kemenangan dharma yang telah dirayakan pada Hari Raya Galungan. "Hari Kuningan mengingatkan kita untuk lebih mengasah hasil dari perayaan Galungan, yakni kemenangan dharma atas adharma. Momentum ini menjadi saat untuk meneguhkan kemenangan tersebut dalam kehidupan," ujarnya.

Arya menjelaskan, secara filosofis Hari Raya Kuningan memiliki makna yang berbeda berdasarkan waktu pelaksanaannya. Pada pagi hari hingga sebelum tengah hari diyakini sebagai waktu turunnya energi positif sekaligus saat Sang Hyang Pitara memberikan berkah kepada keturunannya. Oleh karena itu, umat Hindu dianjurkan menyelesaikan seluruh rangkaian persembahyangan dan yadnya sebelum pukul 12.00 siang.

Menurutnya, setelah pukul 12.00 siang dipercaya memasuki masa tamasika kala, yakni waktu yang melambangkan dominasi sifat kemalasan. Atas dasar keyakinan tersebut, pelaksanaan persembahan pada Hari Raya Kuningan dilakukan sebelum tengah hari sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Pitara yang diyakini kembali ke alamnya.

Ia menambahkan, penggunaan sarana upacara pada Hari Raya Kuningan juga mengandung makna filosofis yang mendalam. Tamiang melambangkan perlindungan terhadap kemenangan dharma yang telah diraih, endong menjadi simbol tempat menyimpan hasil kemenangan agar tetap terjaga, sedangkan panah melambangkan keteguhan dalam mempertahankan dan mengarahkan kehidupan agar senantiasa berada di jalan dharma.

Selain memiliki makna simbolis, Arya menilai Hari Raya Kuningan menjadi momentum refleksi bagi setiap umat Hindu untuk mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai dharma telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kemenangan sejati tidak hanya tercermin melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui perilaku yang menciptakan keharmonisan, saling menghormati, dan memperkuat persaudaraan sebagaimana ajaran Vasudhaiva Kutumbakam, yang memandang seluruh umat manusia sebagai satu keluarga.

Arya berharap generasi muda Hindu tidak hanya melaksanakan rangkaian upacara sebagai sebuah tradisi atau rutinitas tahunan, tetapi juga memahami makna filosofis yang terkandung dalam setiap prosesi sehingga nilai-nilai luhur agama dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. "Jangan sampai pelaksanaan upacara hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Mari bersama-sama belajar memahami nilai-nilai yang tersirat maupun tersurat agar perayaan hari suci memberikan manfaat bagi kehidupan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....