Duta Tabanan Hidupkan Kembali Legong Klasik Lewat Sutasoma di PKB 2026

  • 29 Jun 2026 07:51 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Pementasan Legong Kreasi bertajuk Sutasoma yang dibawakan Duta Kabupaten Tabanan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 menjadi upaya memperkenalkan kembali pakem tari klasik kepada generasi muda di tengah berkembangnya tari modern dan kontemporer. Pembina Tari Legong Kreasi Duta Kabupaten Tabanan, Ni Putu Yuna Sri Rejeki, S.Pd., M.Pd., Kepada RRI.CO.ID, Sabtu, 27 Juni 2026 mengatakan garapan tahun ini tetap berlandaskan pakem Pelegongan Klasik yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya kreasi tanpa meninggalkan identitas dasarnya.

Menurutnya, konsep pementasan disesuaikan dengan tema PKB 2026, yakni Atma Kerti, melalui pengangkatan kisah Sutasoma yang juga menjadi inspirasi logo PKB tahun ini. "Karena saya mengambil Tari Legong Kreasi, jadi pelegongan klasik yang seharusnya ada pakem-pakemnya itu kita kembangkan menjadi kreasi sedikit. Sesuai dengan tema tahun ini, Atma Kerti, kami mengambil cerita Sutasoma," ujarnya.

Yuna mengaku keberadaan PKB memiliki arti penting bagi para seniman, khususnya dalam menjaga keberlangsungan tari-tari klasik Bali. Menurutnya, materi klasik yang dipentaskan setiap tahun menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda agar tidak hanya mengenal tari modern.

"Materi-materi PKB sekarang ada yang klasik seperti ini. Jadi anak-anak belajar Tari Legong Klasik yang mungkin menurut mereka membosankan. Dengan adanya PKB dan materi Legong Klasik ini, kami para seniman sangat senang bisa mengajarkan bahwa inilah Legong Klasik yang perlu dilestarikan sebagai identitas Bali," ungkapnya.

Ia menjelaskan proses persiapan pementasan dimulai sejak April 2026. Intensitas latihan ditingkatkan pada Mei dengan menyesuaikan jadwal para penari yang sebagian telah bekerja maupun memiliki kesibukan lain. "Tantangannya lebih pada mengatur waktu. Sekalinya dapat latihan, semuanya harus disiplin dan memaksimalkan waktu yang ada," katanya.

Terkait kondisi sejumlah penari yang tampak emosional usai pementasan, Yuna menegaskan hal tersebut bukan merupakan kondisi trance atau kerauhan. Sebelum tampil, para penari telah diarahkan untuk mengekspresikan emosi yang muncul setelah mengerahkan kemampuan terbaik di atas panggung.

"Saya memang sudah briefing mereka. Kalau memang ingin mengeluarkan emosi setelah menari, silakan dikeluarkan. Itu bukan kerauhan, tetapi bentuk pelepasan rasa setelah tampil," jelasnya.

Yuna berharap generasi muda tetap mencintai dan melestarikan tari tradisi Bali meskipun mempelajari berbagai jenis tari modern. "Boleh belajar dance modern atau tari kontemporer, tetapi tari tradisi jangan dilupakan. Karena itulah identitas dan budaya Bali yang harus terus dilestarikan," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....