Absennya Pendampingan Orang Tua Celah Utama Ekstremisme di Ruang Digital
- 23 Jun 2026 10:24 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Fenomena radikalisme, ekstremisme berbasis kekerasan, dan propaganda intoleransi di ruang digital menjadi ancaman serius bagi anak. Terlebih di era digital saat ini, akses anak dan remaja berselancar di ruang digital terbuka luas.
Hal itu diungkapkan Kelompok Ahli Gubernur Bali Bidang Perempuan dan Anak Dr. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi W.S saat dikonfirmasi RRI di Denpasar, Selasa 23 Juni 2026. Menurutnya, ketidakpahaman anak serta absennya pendampingan orang tua saat anak bermain di dunia maya, justru menjadi celah utama kelompok radikal menyebarkan ekstremisme kekerasan di ruang digital.
Karena usia remaja, menjadi kelompok rentan terhadap doktrinasi melalui pendekatan emosional, komunitas tertutup, dan permainan online. Diah Werdhi Srikandi mengatakan, penggunaan media sosial, platform video, game online, dan aplikasi percakapan yang tidak terkontrol serta tanpa pengawasan memicu anak semakin rentan terpapar ujaran kebencian, ajakan kekerasan, dan paham radikal.
Menurutnya, upaya perlindungan anak tidak cukup hanya dengan pemblokiran konten atau penegakan hukum, tetapi harus diimbangi dengan penguatan ketahanan keluarga dan peningkatan kapasitas pendampingan terhadap anak saat berselancar di ruang digital. “Ketidakpahaman anak serta absennya pendampingan orang tua menjadi celah utama kelompok radikal menyebarkan ekstremisme kekerasan di ruang digital. Terlebih usia remaja, menjadi kelompok rentan terhadap doktrinasi melalui pendekatan emosional, komunitas tertutup, dan permainan online,” ujarnya.
Diah Werdhi Srikandi tidak memungkiri, anak – anak saat ini sangat dekat dengan ruang digital. Karena itu, orang tua dan lingkungan berperan penting membangun ruang aman bagi anak dengan menerapkan pola pengawasan dan komunikasi yang sehat di ruang digital.
“Pendekatan perlindungan juga harus mengikuti perkembangan pola interaksi mereka di dunia maya,” tutur Diah Werdhi Srikandi menekankan,
Anak dan remaja menjadi kelompok rentan terhadap doktrinasi di ruang digital. Hal itu dipicu akibat ketidakpahaman anak serta absennya pendampingan orang tua di ruang digital. Tidak sedikit anak yang terpapar ekstremisme kekerasan di ruang digital direkrut dan didorong untuk melakukan kekerasan dan radikalisme.
Perlindungan anak di ruang digital tidak bisa dilakukan secara parsial dan memerlukan strategi pencegahan yang kuat melalui edukasi yang tepat sasaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....