Duta Gianyar Suguhkan Jatiswara, Angkat Pesan Harmoni Lewat Seni Tradisi

  • 22 Jun 2026 08:15 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Duta Kabupaten Gianyar menghadirkan pementasan bertajuk Jatiswara pada Wimbakara Taman Penasar dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Melalui garapan tersebut, Gianyar mengangkat pesan moral tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sesuai filosofi Tri Hita Karana.

Ketua Sanggar Seni Cudamani sekaligus Pimpinan Produksi Duta Kabupaten Gianyar, I Dewa Putu Berata, kepada RRI.CO.ID, Jumat, 19 Juni 2026 mengatakan konsep Jatiswara merupakan sebuah tutur yang mengajak masyarakat merefleksikan berbagai persoalan kehidupan yang terjadi belakangan ini. "Tema pada hari ini adalah Jatiswara. Itu adalah sebuah tutur yang mengingatkan kita akan kehidupan di dunia ini, di mana ditekankan Tri Hita Karana, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam," ujarnya.

Menurutnya, garapan tersebut juga menyoroti berbagai fenomena sosial, seperti kematian akibat bunuh diri maupun kecelakaan, yang dalam konsep tradisi Bali dikenal sebagai ulah pati dan salah pati. Melalui pementasan itu, solusi yang ditawarkan tidak hanya sebatas pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga perubahan perilaku manusia.

"Kita pakai kerangka konsep di sini untuk mencapai solusi apa yang harus dilakukan, bagaimana kita bersikap sebagai manusia. Pada akhirnya kita harus menyeimbangkan semuanya dengan upacara dan dengan kelakuan kita. Upacaranya bernama Caru Nawu Gempang. Pesan moralnya, bukan hanya upacara yang bisa menyelesaikan, tetapi apa yang kita lakukan juga harus sesuai," katanya.

Dalam pementasan tersebut, sebanyak 15 penabuh, tiga penyanyi perempuan, tiga pengartos (penerjemah makna tutur), serta seorang penyejag terlibat untuk menghidupkan keseluruhan pertunjukan. Berata menjelaskan proses persiapan telah dimulai sejak awal tahun setelah Sanggar Seni Cudamani dipercaya menjadi Duta Kabupaten Gianyar.

Latihan dilakukan secara bertahap, mulai dari latihan sektoral hingga latihan gabungan yang melibatkan seluruh unsur pendukung pertunjukan. "Begitu ditugaskan oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar, kami langsung mengadakan pertemuan, memilih seniman, kemudian memulai latihan melalui upacara nuasen. Latihan sudah dimulai sejak Februari. Kami juga mendapat pendampingan dari para pembina dan tim yang luar biasa," ungkapnya.

Usai menyaksikan penampilan para seniman di panggung PKB, Berata mengaku terharu dengan hasil yang ditampilkan. "Saya betul-betul bahagia. Sebetulnya saya menangis. Mereka sebagai penyanyi bukan hanya menyanyi, tetapi mampu menghidupkan suasana sehingga penonton bisa menangkap pesan-pesan yang disampaikan. Itu yang bagi saya sangat penting, bukan hanya artistik, tetapi juga jelas pesannya," ucapnya.

Ia menilai keberhasilan sebuah pementasan tidak hanya diukur dari keindahan artistik, melainkan dari kemampuan menyampaikan nilai-nilai moral kepada penonton. "Saya memang meminta mereka betul-betul masuk ke jiwa penonton supaya apa yang kita nyanyikan dan apa yang kita sampaikan itu mengena, bukan hiburan semata. Saya kira mereka sangat berhasil tadi," tambahnya.

Ke depan, Berata berharap semakin banyak generasi muda yang menyaksikan pertunjukan seni tradisi, karena menurutnya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat penting sebagai pembelajaran karakter. "Harapan saya ke depannya supaya lebih banyak anak-anak yang menonton, sebab ini tutur yang bagus sekali untuk anak-anak kita. Persiapan ke depan juga semoga lebih baik lagi, terutama terkait sound system, karena pesan moral dan filsafat yang disampaikan dalam pertunjukan ini sangat penting bagi masyarakat," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....