Tahun Baru Islam Jadi Momentum Hijrah dan Evaluasi Diri

  • 22 Jun 2026 08:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dimaknai bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum hijrah untuk memperbaiki diri, memperkuat ibadah, serta meninggalkan berbagai perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Guru Agama Islam SMAN 2 Denpasar, Farhan Muhaimin, kepada RRI.CO.ID Senin, 15 Juni 2026 mengungkapkan, secara makna Muharram merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Pada bulan ini umat Islam dianjurkan menjauhi peperangan, pertumpahan darah, maupun berbagai bentuk kemaksiatan. "Kalau kata Muharram itu sendiri adalah sesuatu yang diharamkan. Sesuatu yang diharamkan untuk berperang, sesuatu yang diharamkan untuk pertumpahan darah, sesuatu yang diharamkan untuk bermaksiat. Sehingga bulan Muharram itu menjadi bulan yang suci," ujarnya.

Farhan menambahkan, Muharram juga memiliki nilai historis yang sangat penting karena bertepatan dengan berbagai peristiwa besar dalam sejarah para nabi. "Salah satu kejadian besar yang terjadi pada para nabi yang bertepatan pada bulan Muharram yaitu diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Firaun, Nabi Ibrahim diselamatkan dari kobaran api, dan Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan paus," ungkapnya.

Lebih lanjut, Farhan menjelaskan, penanggalan Hijriah ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah karena menjadi titik balik perjuangan umat Islam dari masa penganiayaan menuju terbentuknya masyarakat Islam yang berdaulat di Madinah. "Hijrah bukan hanya sekadar hijrah secara fisik dari Mekkah ke Madinah, namun juga ada hijrah secara batiniah, yaitu meninggalkan perbuatan-perbuatan jahiliah menuju perbuatan-perbuatan yang tertata oleh ajaran Islam," jelasnya.

Menurut Farhan, pergantian Tahun Baru Islam hendaknya dijadikan momentum introspeksi diri, bukan sekadar perayaan sebagaimana pergantian Tahun Baru Masehi. "Momentum 1 Muharram ini selain pergantian tahun juga menjadi momentum mengevaluasi diri kita, bukan mengevaluasi orang lain. Banyak di antara kita fokus terhadap dosa-dosa orang lain sehingga lupa terhadap dosa kita sendiri," katanya.

Ia mengatakan, bulan Muharram juga dianjurkan diisi dengan berbagai amalan ibadah seperti memperbanyak puasa sunah, sedekah, salat sunah, hingga berbagi kepada anak yatim. Selain itu, Farhan menilai keluarga, sekolah, maupun organisasi keagamaan memiliki peran penting memperkenalkan makna dan sejarah Muharram kepada generasi muda agar tidak hanya mengetahui pergantian tahun, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Di tengah tantangan ekonomi, konflik global, hingga perkembangan teknologi yang memengaruhi generasi muda, Farhan mengajak masyarakat menjadikan Muharram sebagai momentum memperbaiki diri sekaligus membangun kepedulian terhadap sesama. "Ayo kita lawan kebodohan ini, ayo kita lawan kejahilan ini. Kita harus menyeimbangkan ibadah kita dengan kehidupan dunia agar mampu mewujudkan masyarakat yang harmonis, sejahtera, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi juga mementingkan umat," pesannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....