Harga Tiket Pesawat Mahal Berpotensi Tekan Kunjungan Wisatawan Domestik

  • 07 Jun 2026 17:48 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Kenaikan harga tiket pesawat dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan wisatawan domestik menuju Bali, terutama di tengah meningkatnya biaya operasional penerbangan akibat kondisi geopolitik global. Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali sekaligus Ketua Umum DPP Nawa Cita Pariwisata Indonesia, Gusti Kade Sutawa, kepada RRI.CO.ID, Senin, 1 Juni 2026 mengatakan salah satu tantangan yang saat ini dihadapi sektor pariwisata adalah meningkatnya harga tiket pesawat yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kenaikan harga avtur.

Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan ketidakpastian geopolitik internasional yang turut berdampak pada sektor transportasi udara. "Kalau avtur naik terus ini akibat perang di Iran ini, saya rasa akan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan secara umum," ujarnya.

Sutawa menjelaskan, kenaikan harga avtur pada akhirnya dapat memengaruhi harga tiket penerbangan yang harus dibayar wisatawan. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan membuat sebagian masyarakat menunda perjalanan wisata, khususnya wisatawan domestik yang lebih sensitif terhadap perubahan biaya perjalanan.

Ia menilai wisatawan mancanegara kemungkinan masih memiliki daya beli yang relatif lebih kuat. Namun, pasar wisatawan domestik berpotensi terdampak apabila harga tiket terus meningkat.

"Kalau mahal ya siapa mau traveling," katanya.

Selain faktor avtur, Sutawa juga menyoroti kondisi nilai tukar rupiah yang menurutnya perlu menjadi perhatian. Ia menilai pelemahan rupiah dapat memengaruhi harga berbagai kebutuhan yang masih bergantung pada impor, termasuk sejumlah komoditas yang digunakan dalam industri pariwisata dan perhotelan.

Meski demikian, ia optimistis Bali masih memiliki daya tarik yang kuat sebagai destinasi wisata dunia. Menurutnya, budaya, keramahan masyarakat, dan keindahan alam Bali tetap menjadi alasan utama wisatawan berkunjung ke Pulau Dewata.

Karena itu, ia mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus berkolaborasi dalam menjaga daya saing pariwisata Bali, termasuk dengan mencari solusi terhadap berbagai tantangan yang dapat memengaruhi mobilitas wisatawan. Sutawa berharap situasi geopolitik global dapat segera membaik sehingga tidak memberikan dampak berkepanjangan terhadap industri penerbangan dan sektor pariwisata yang menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....