Pelestarian Subak, Proteksi Bantuan dan Lindungi Petani
- 03 Jun 2026 12:15 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Subak sebagai organisasi kemasyarakatan tradisional yang mengatur sistem pengairan atau irigasi sawah secara adil, demokratis, dan berkelanjutan menghadapi sejumlah persoalan. Sistem yang telah dipraktikkan petani Bali sejak abad ke-11 dan menjadi simbol kearifan lokal dalam menjaga keselarasan hidup itu memerlukan perlindungan ditengah gempuran alih fungsi lahan produktif.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Profesor Ketut Suamba dikonfirmasi RRI.CO.ID di Denpasar mengatakan, alih fungsi lahan pertanian di Bali yang mencapai ribuan hektar pertahun menjadi salah satu tantangan eksistensi subak di era modern. Menurut Prof. Suamba, eksistensi subak menjadi keharusan, karena sektor pertanian menjadi sumber pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.
Prof. Suamba menekankan, sistem pengairan tradisional ini ini bukan sekadar saluran irigasi biasa, melainkan manifestasi filosofi Tri Hita Karana yang mengedepankan harmonisasi alam. Jika tidak ada upaya pemberdayaan terhadap subak, Ia meyakini organisasi pertanian tradisional itu akan tergerus kemajuan jaman.
“Subak menghadapi sejumlah persoalan salah satunya masufnya alih fungsi lahan pertanian yang mencapai ribuan hektar pertahun. Kondisi ini harus icarikan solusi tepat untuk melindungi keberadaan Subak,” ujar Prof. Suamba.
Prof. Suamba mengatakan, langkah konkret pelestarian Subak dapat dilakukan dengan proteksi bantuan infrastruktur dan perbaikan proyek irigasi. Selain itu, diperlukan relaisasi bantuan alat mesin pertanian bagi kelompok tani untuk menujang produktivitas hasil pertanian.
“Penerapan praktik pertanian ramah lingkungan dan bernilai ekonomi juga menjadi hal krusial untuk pelestarian Subak. Serta penguatan lembaga, pendampingan awig-awig atau aturan adat dan perlindungan lahan dari alih fungsi,” tuturnya.
Keberadaan organisasi pengairan tradisional “Subak” di Bali masih menghadapi sejumlah persoalan salah satunya semakin menyempitnya areal subak akibat masifnya alih fungsi lahan produktif yang mencapai ribuan hektar pertahun. Tidak hanya dilanda ancaman eksternal, organisasi pertanian di Bali itu juga mendapat ancaman secara internal terutama pada aspek irigasi dan pola tanam akibat pengaruh perkembangan teknologi.
Sistem yang merupakan manifestasi filosofi Tri Hita Karana yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia itu memerlukan perlindungan ditengah gempuran alih fungsi lahan pertanian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....