Stigma terhadap Pengidap Skizofrenia Masih Tinggi

  • 25 Mei 2026 13:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Stigma terhadap pengidap skizofrenia di masyarakat dinilai masih cukup tinggi, baik di Bali maupun di Indonesia secara umum. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan dalam proses pemulihan orang dengan gangguan jiwa.

Koordinator Rumah Berdaya KPSI Simpul Bali, I Nyoman Sudiasa, mengatakan masih banyak masyarakat yang memiliki pandangan keliru terhadap pengidap skizofrenia. Salah satunya mengaitkan gangguan jiwa dengan hal mistis atau anggapan bahwa pengidap skizofrenia berbahaya.

“Di Bali stigma terhadap orang dengan skizofrenia maupun gangguan jiwa masih kami rasakan cukup besar. Banyak yang masih menganggap gangguan jiwa itu karena hal mistis,” ujarnya.

Menurutnya, stigma tersebut membuat banyak penyintas skizofrenia terlambat mendapatkan pengobatan medis. Bahkan, tidak sedikit penyintas justru menjadi korban kekerasan, diskriminasi, hingga pelecehan di lingkungan sosialnya.

Ia menjelaskan, komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali bersama Rumah Berdaya terus berupaya menghapus stigma dengan menunjukkan bahwa penyintas skizofrenia dapat pulih, berkarya, dan hidup mandiri. Berbagai kegiatan kreatif hingga pelatihan keterampilan terus dilakukan untuk mendukung proses rehabilitasi psikososial.

“Kami ingin menunjukkan bahwa penyintas skizofrenia bisa berkreativitas, berdaya, bahkan berkeluarga dan bekerja seperti masyarakat lainnya,” katanya.

Selain itu, KPSI Simpul Bali juga menjalin kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat maupun keluarga penyintas. Dukungan keluarga dan lingkungan sosial dinilai sangat penting dalam mempercepat proses pemulihan pengidap skizofrenia.

Menurut I Nyoman Sudiasa, faktor penyebab gangguan jiwa dapat dipengaruhi berbagai hal seperti faktor genetik, tekanan ekonomi, lingkungan sosial, hingga pengalaman perundungan atau bullying. Karena itu, masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap kesehatan mental dan tidak memberikan stigma negatif kepada penyintas gangguan jiwa.

“Kami berharap masyarakat mendukung dan tidak lagi memberikan stigma negatif terhadap penyintas skizofrenia sehingga mereka bisa pulih dan kembali berdaya di masyarakat,” jelasnya.

Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental terus meningkat sehingga penyintas skizofrenia mendapatkan ruang yang aman untuk menjalani proses pemulihan dan kehidupan sosial secara lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....