Pengamat Nilai Penutupan TPA Suwung Berisiko Picu Ledakan Sampah Baru di Bali
- 25 Mei 2026 13:02 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Badung - Pengamat kebijakan publik, I Gusti Putu Artha, menilai rencana penutupan TPA Suwung secara permanen berpotensi memunculkan persoalan baru apabila tidak dibarengi kesiapan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Hal tersebut disampaikannya dalam talkshow “Bali Darurat Sampah: Lantas Gerak Apa yang Bisa Kita Lakukan?” di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Sabtu 23 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, Putu Artha menyoroti persoalan tata kelola sampah yang menurutnya telah berlangsung puluhan tahun tanpa penyelesaian serius. Ia menyebut TPA Suwung yang telah beroperasi sejak tahun 1984 kini dibebani target penyelesaian dalam waktu singkat.
Menurutnya, persoalan sampah di Bali tidak bisa dilepaskan dari lemahnya tata kelola serta minimnya kesiapan sistem pengolahan sampah dari hulu hingga hilir. Ia menilai masyarakat selama ini juga belum dipersiapkan secara optimal untuk menghadapi perubahan pola pengelolaan sampah.
Meski demikian, Putu Artha melihat tekanan terhadap persoalan sampah di Bali turut memunculkan sisi positif berupa meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mulai memilah sampah dan mengubah kebiasaan sehari-hari. Ia mengatakan apabila kondisi saat ini tidak segera disertai solusi nyata, maka ledakan sampah berpotensi kembali terjadi ketika TPA Suwung resmi ditutup pada 1 Agustus nanti.
"1 Agustus, kalau problemnya masih seperti sekarang, way out-nya masih seperti sekarang, maka ledakan sampah yang terjadi dari empat katup-katup tadi itu, bulan Agustus 2025, bulan Desember, bulan Maret, bulan April, masih akan terjadi. Saya ingin mengatakan 1 Agustus Suwung ditutup, Bali akan kotor lagi, Badung akan kotor lagi, dan Denpasar akan kotor lagi," ujar Putu Artha.
Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung keterbatasan kapasitas sejumlah fasilitas pengolahan sampah di Denpasar yang dinilai belum mampu menampung total produksi sampah harian. Ia memperkirakan masih terdapat ratusan ton sampah residu yang belum memiliki solusi pengolahan jelas ketika penutupan TPA Suwung diberlakukan.
Putu Artha menyebut saat ini seluruh pihak telah bekerja keras, mulai dari pemerintah daerah, petugas lapangan, hingga masyarakat yang mulai membangun teba modern dan melakukan pemilahan sampah mandiri. Namun menurutnya, persoalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun tidak mungkin selesai hanya dalam waktu singkat.
Ia pun menilai perlu adanya langkah realistis apabila pemerintah belum memiliki tempat pembuangan alternatif yang memadai. "Kalau 1 Agustus tidak terselesaikan, dan pasti tidak akan terselesaikan, hanya ada dua opsi. Tetap Suwung dibuka apapun risikonya dengan revitalisasi seperti yang ada sekarang, dan atau semua yang tidak terselesaikan hari ini dipindahkan ke tempat lain membangun satu TPA baru," katanya.
Di sisi lain, Putu Artha mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap berkolaborasi dalam memperkuat kesadaran pengelolaan sampah di Bali. Ia menilai perubahan kebiasaan masyarakat yang mulai memilah sampah menjadi modal penting dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah ke depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....