BTID Tekankan Kolaborasi Jaga Habitat Penyu di Kawasan Serangan Bali

  • 25 Mei 2026 07:55 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Bali Turtle Island Development (BTID) menegaskan komitmennya dalam menjaga habitat penyu di kawasan pesisir Pulau Serangan, Bali, melalui kolaborasi bersama berbagai pihak. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus mendukung pariwisata berkelanjutan di Bali.

Head of Communications BTID, Zefry Alfaruqy, kepada RRI.CO.ID, Jum’at, 22 Mei 2026, mengatakan kawasan pesisir Serangan merupakan habitat penting bagi penyu yang datang secara musiman untuk bertelur. Karena itu, pengembangan kawasan tetap dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan konservasi.

“Kita berkolaborasi ya. BTID memahami bahwa kawasan pesisir Serangan ini kan merupakan bagian dari habitat penting bagi penyu yang datang secara musiman. Dan komitmen BTID tentu saja memastikan proses pengembangan kawasan tetap memperhatikan aspek lingkungan pesisir melalui koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas dan lembaga konservasi setempat,” ujarnya.

Menurutnya, konservasi penyu tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak, melainkan membutuhkan kerja sama jangka panjang antara pemerintah, masyarakat, komunitas konservasi, hingga sektor swasta. “BTID memahami bahwa konservasi penyu membutuhkan kolaborasi jangka panjang dan tidak cuma dilakukan oleh sepihak saja. Jadi memang butuh bantuan dari berbagai pihak,” katanya.

Ia menilai menjaga ekosistem pesisir memiliki peran penting bagi keberlangsungan hidup penyu sekaligus menjadi daya tarik wisata Bali. Terlebih kawasan BTID telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus sejak tahun 2023.

“Kami rasa sangat penting, karena kalau kita ketahui itu juga bisa menjadi salah satu daya tarik pariwisata. Jadi untuk kami memang penting untuk terus melestarikan dan menjaga habitat penyu ini,” ujarnya.

Meski demikian, Zefry mengakui terdapat berbagai tantangan dalam menjaga habitat penyu, terutama karena penyu membutuhkan suasana pantai yang tenang dan gelap saat musim bertelur. “Tantangannya tentu ada dampak aktivitas kawasan. Penyu ketika bertelur pasti membutuhkan tempat yang tenang dan gelap. Itu tantangan bagi kami untuk tetap menjaganya,” ucapnya.

BTID bersama Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Serangan juga rutin melakukan pemantauan dan penyelamatan telur penyu di kawasan Pantai Serangan. “Ketika penyu sudah musim bertelur, kami bersama-sama mendatangi lokasi dan berkolaborasi mengumpulkan telur tersebut untuk ditetaskan. Takutnya nanti disalahgunakan oleh pihak tertentu,” katanya.

Selain konservasi, BTID juga menggandeng TCEC dalam kegiatan edukasi lingkungan kepada masyarakat dan generasi muda mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir. “Kami menggandeng TCEC untuk melakukan edukasi agar generasi muda semakin memahami pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir. Jadi kolaborasi edukasi lingkungan ini tentu bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Zefry menyebut populasi penyu di kawasan Serangan masih cukup sering ditemukan, khususnya pada periode pertengahan tahun. “Secara umum penyu masih sering ditemukan datang ke beberapa area pesisir Serangan. Bahkan dua bulan lalu ada penyu yang datang dan bertelur hampir 200 telur, padahal belum musim bertelur,” katanya.

Momentum Hari Kura-Kura Sedunia, menurut Zefry, menjadi pengingat bahwa menjaga ekosistem laut dan pesisir merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. “Momentum Hari Kura-Kura Sedunia ini menjadi pengingat bahwa menjaga ekosistem laut dan pesisir adalah tanggung jawab bersama. Jadi kami mengajak masyarakat mulai dari hal sederhana seperti menjaga kebersihan pantai, mengurangi pencemaran, dan mendukung upaya pelestarian lingkungan pesisir,” ucapnya.

BTID berharap konservasi penyu di Pulau Serangan dapat terus berjalan secara berkelanjutan melalui kolaborasi seluruh pihak. “Kami berharap konservasi penyu di Serangan dapat terus berjalan secara berkelanjutan melalui kolaborasi masyarakat, lembaga konservasi, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Karena Pulau Serangan memiliki nilai ekologis yang penting sehingga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan aktivitas kawasan perlu terus dijaga bersama,” kata Zefry Alfaruqy.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....