Kekerasan terhadap Anak Perlu Dicegah dengan Lingkungan Aman dan Keberanian

  • 21 Mei 2026 13:10 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Badung - Peran keluarga dan sekolah dinilai sangat penting dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Tenaga Pendidik sekaligus Wali Kelas 3 SD Mutiara Bali, Astrid Widyaningtyas, S.P., kepada RRI.CO.ID, Rabu, 20 Mei 2026, mengatakan pencegahan kekerasan terhadap anak tidak hanya menjadi tanggung jawab instansi tertentu, melainkan harus dimulai dari tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, rumah harus menjadi ruang aman pertama bagi anak untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman tanpa takut dihakimi. “Orang tua sering kali hanya bertanya soal PR atau tugas sekolah, padahal anak juga perlu ditanya apakah ada kejadian yang membuat mereka tidak nyaman hari itu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, membangun komunikasi yang sehat dapat membantu anak lebih berani berbicara ketika mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan. Hal tersebut juga mencegah anak mencari perlindungan kepada orang asing di luar rumah.

Selain itu, Astrid menekankan pentingnya edukasi mengenai batasan tubuh dan literasi digital sejak dini. Anak perlu memahami sentuhan yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya.

“Tubuh mereka adalah otoritas mereka sendiri dan mereka berhak melindungi diri,” katanya.

Dalam upaya pencegahan, sekolah juga rutin memberikan sosialisasi mengenai hak anak, penyediaan kanal aduan, hingga pendampingan psikolog apabila ditemukan kasus kekerasan. Ia menyebut pemulihan trauma menjadi prioritas utama bagi korban kekerasan anak.

Astrid menilai bentuk kekerasan yang paling sering terjadi pada anak biasanya berawal dari aktivitas bermain sehari-hari. Perselisihan kecil saat bermain dapat berkembang menjadi tindakan fisik apabila tidak ditangani dengan baik.

Karena itu, guru selalu mendorong siswa untuk berani melapor ketika mengalami atau melihat tindakan kekerasan. “Anak-anak kami ajarkan untuk speak up jika ada hal yang mengancam diri mereka. Jadi ketika ada kejadian seperti didorong atau dibully, mereka langsung melapor kepada guru,” jelasnya.

Dalam menangani kasus tersebut, pihak sekolah memilih langkah mediasi dengan mendengarkan keterangan korban maupun pelaku sebelum mencari solusi bersama. Jika diperlukan, sekolah juga melibatkan orang tua hingga psikolog untuk penanganan lebih lanjut.

Namun demikian, tantangan terbesar justru datang dari sebagian orang tua yang tidak percaya anaknya melakukan tindakan kekerasan. “Kadang orang tua tetap kukuh membela anaknya meskipun sudah ada keterangan korban dan bukti dari sekolah,” ujarnya.

Astrid juga menyoroti pengaruh media sosial dan game online terhadap perilaku anak. Menurutnya, tayangan atau permainan yang mengandung unsur kekerasan dapat ditiru anak dalam kehidupan nyata apabila tidak diawasi dengan baik.

Karena itu, pihak sekolah mengimbau orang tua untuk aktif mengawasi penggunaan gadget anak, termasuk membatasi akses terhadap permainan yang mengandung unsur kekerasan. Ia menilai gadget seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan pengembangan kreativitas anak.

Astrid berpesan agar orang tua lebih peka terhadap kondisi emosional anak. Ia menegaskan anak yang diam belum tentu baik-baik saja, melainkan bisa jadi takut untuk berbicara mengenai pengalaman yang dialaminya.

“Orang tua adalah tempat perlindungan terbaik bagi anak. Jadi jangan langsung menghakimi, tetapi dengarkan dan dampingi mereka,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....