Tekanan Nilai Tukar Rupiah Dinilai Dipengaruhi Turunnya Kepercayaan Pasar
- 17 Mei 2026 17:52 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai menjadi sinyal serius terhadap menurunnya kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Pengamat ekonomi asal Denpasar, Jro Gde Sudibya, kepada RRI.CO.ID, Rabu 13 Mei 2026, mengatakan kondisi tersebut perlu segera direspons pemerintah melalui kebijakan fiskal dan moneter yang tepat.
Ia menjelaskan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini mengalami paradoks. Di satu sisi pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tercatat mencapai 5,11 persen, namun di sisi lain nilai rupiah justru terus melemah hingga menyentuh angka Rp17.452 per dolar AS.
“Nilai rupiah sekarang ini terendah selama 29 tahun terakhir. Ini berarti ada persoalan serius yang berkaitan dengan persepsi pasar uang dan pasar modal terhadap kebijakan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, pelemahan rupiah akan berdampak luas terhadap berbagai sektor perekonomian, terutama barang-barang yang bergantung pada komponen impor. Kondisi tersebut dinilai akan memicu kenaikan harga dan inflasi di tengah masyarakat.
“Hampir seluruh sektor terdampak, terutama barang konsumsi yang bahan bakunya impor. Sekarang masyarakat sudah mulai merasakan kenaikan harga di pasar,” katanya.
Ia menilai pelemahan rupiah yang terus terjadi berbeda dengan kondisi negara-negara ASEAN lain seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam yang justru mata uangnya menguat terhadap dolar AS. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan adanya persepsi negatif investor terhadap kebijakan makro fiskal dan moneter Indonesia.
Jro Gde Sudibya juga mengingatkan pemerintah agar belajar dari sejarah krisis ekonomi 1998. Saat itu, pelemahan rupiah secara drastis berdampak pada lonjakan inflasi hingga gejolak politik nasional.
“Dalam sejarah Indonesia, penurunan nilai rupiah yang terlalu cepat bisa berdampak serius terhadap ekonomi dan stabilitas politik,” jelasnya.
Untuk langkah jangka pendek, ia mendorong pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan APBN agar lebih rasional dan hati-hati. Ia menilai defisit APBN tahun 2026 yang diperkirakan mencapai 4,06 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) berpotensi menurunkan kepercayaan investor.
Menurutnya, pemerintah perlu memprioritaskan anggaran pada penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, dan pengendalian inflasi.
Selain itu, ia menekankan pentingnya langkah cepat pemerintah dalam hitungan hari untuk memulihkan kepercayaan pasar. Ia berharap Presiden bersama jajaran kabinet segera mengambil langkah konkret guna menenangkan pasar keuangan dan investor.
“Publik dan pelaku pasar menginginkan adanya langkah serius pemerintah untuk menenangkan pasar dan menahan turunnya nilai rupiah,” katanya.
Terkait peran Bank Indonesia, Jro Gde Sudibya menilai bank sentral telah mengambil langkah serius melalui kebijakan suku bunga dan instrumen moneter lainnya. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup tanpa dukungan kebijakan fiskal pemerintah.
“Diperlukan kebijakan yang tepat antara pemerintah dan Bank Indonesia untuk menenangkan pasar dan menjaga nilai rupiah,” ujarnya.
Ia pun mengimbau masyarakat tetap tenang menghadapi kondisi pelemahan rupiah saat ini dan tidak melakukan pembelian secara panik yang justru dapat memicu “psikologi inflasi”.
“Masyarakat berbelanjalah sesuai kebutuhan pokok, jangan panik karena kepanikan justru dapat membuat harga semakin naik,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....