Peran Ganda Perempuan Bali
- 08 Mei 2026 16:41 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Pembina Butterfly Care, Ni Komang Nartini, menilai perempuan Bali hingga saat ini masih menghadapi tantangan besar dalam menjalankan peran ganda di tengah tuntutan adat, keluarga, dan pekerjaan. Nartini mengatakan perempuan Bali tidak hanya dituntut sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga pencari nafkah sekaligus pelaksana kewajiban adat.
“Perempuan Bali bukan sekadar perempuan biasa, tetapi perempuan yang harus kuat dan tegar. Banyak tuntutan yang dianggap sebagai kewajiban tanpa melihat tekanan mental dan batin yang dirasakan perempuan,” ujarnya.
Menurutnya, budaya patriarki dan stigma sosial masih menjadi tantangan yang dirasakan sebagian perempuan Bali. Ia mencontohkan adanya tuntutan sosial agar perempuan segera menikah hingga harus memiliki anak laki-laki setelah menikah.
“Kadang masih ada stigma seperti perempuan harus menikah dan harus punya keturunan laki-laki. Padahal itu lebih banyak asumsi masyarakat yang dianggap menjadi tradisi,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengakui ruang inklusif bagi perempuan di lingkungan kerja mulai terbuka. Banyak perempuan Bali kini mulai dilibatkan bahkan menjadi pemimpin di berbagai sektor pekerjaan.
Namun, Nartini menyoroti masih banyak perempuan dari latar belakang pendidikan rendah yang harus bekerja berat demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. “Saya masih melihat perempuan Bali bekerja sebagai kuli bangunan, mengangkat pasir dan bahan bangunan. Itu sangat berat dan berdampak pada kesehatan mereka,” katanya.
| Baca juga: BKKBN Bali Perkuat Sinergi Dunia Pendidikan |
Karena itu, ia berharap ke depan semakin banyak ruang pemberdayaan perempuan melalui pelatihan keterampilan dan komunitas ekonomi kreatif agar perempuan memiliki pekerjaan yang lebih layak. “Perlu ada ruang dan wadah bagi perempuan yang kurang beruntung dari sisi pendidikan agar mereka bisa berkarya dan mendapatkan penghasilan yang lebih layak,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya dialog mengenai pembagian peran yang adil antara perempuan dan laki-laki agar beban peran ganda tidak terus dibebankan sepenuhnya kepada perempuan. Selain itu, Nartini berharap perusahaan dapat menghadirkan kebijakan yang lebih ramah perempuan, termasuk penyediaan fasilitas penitipan anak atau daycare bagi pekerja perempuan.
“Kalau perempuan merasa aman dan tenang karena anaknya terwadahi, tentu hasil pekerjaannya juga akan lebih baik,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....