Koster Lanjutkan Restorasi Parahyangan Besakih

  • 30 Apr 2026 18:08 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Karangasem – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk melanjutkan penataan dan restorasi menyeluruh kawasan Pura Agung Besakih sebagai pusat spiritual umat Hindu sekaligus simbol kesucian dan martabat Bali yang harus dijaga lintas generasi. Koster menekankan bahwa penataan Besakih bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya menjaga warisan suci leluhur Bali, Kamis 23 April 2026.

“Besakih ini bukan kawasan pariwisata biasa. Ini kawasan suci untuk menghaturkan terima kasih dan memohon berkah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yang harus diubah adalah mindset bahwa Besakih bukan objek wisata semata, tetapi pusat spiritual yang harus dijaga kesuciannya,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa tahap pertama penataan kawasan, meliputi area parkir, kebersihan, ketertiban, dan perilaku pengunjung, telah rampung dilaksanakan. Hasilnya, kata dia, telah dirasakan langsung oleh umat yang tangkil sembahyang dengan lebih aman, nyaman, dan tertib.

Koster juga mengklaim adanya perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan kawasan, termasuk tidak lagi membuang sampah sembarangan. “Dulu banyak yang berjubel sembarang tempat, sekarang sudah tertib. Sampah dibungkus dan dibuang pada tempatnya. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat sudah tumbuh,” ujarnya.

Pada tahap kedua, pemerintah akan melanjutkan restorasi kawasan parahyangan, khususnya 26 pelinggih yang mengalami kerusakan, lapuk, hingga berjamur. Koster menilai kondisi tersebut tidak pantas bagi pura terbesar umat Hindu di Bali.

“Ini tempat suci, masa pelinggihnya lapuk, reyot, dan jamuran? Semua akan direstorasi total,” katanya.

Ia menyebut, tujuh pelinggih telah selesai diperbaiki dan 23 pelinggih lainnya akan dikerjakan tahun ini dengan anggaran sekitar Rp203 miliar. Peletakan batu pertama (ground breaking) dijadwalkan pada 1 Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada Desember 2026 setelah rangkaian IBTK.

Koster menegaskan seluruh proses restorasi wajib mengikuti pakem warisan leluhur, baik dari sisi material maupun bentuk arsitektur. “Tidak boleh lagi asal-asalan. Ini tempat suci, harus sesuai pakem dan kualitas terbaik,” tegasnya.

Selain penataan kawasan inti, tahap berikutnya akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur jalan menuju Besakih dari berbagai wilayah di Bali guna mengurai kemacetan saat upacara besar. Ia juga menekankan bahwa pengelolaan kawasan harus dilakukan secara profesional namun tetap berlandaskan nilai spiritual dan pengabdian.

“Ini bukan komersial, tapi pengabdian. Harus bersih, tertib, dan tulus,” ujarnya.

Koster turut menyebut bahwa Badan Pengelola Kawasan Besakih kini sudah mampu membiayai operasional secara mandiri dari hasil pengelolaan kawasan, tanpa ketergantungan penuh pada APBD. Menurutnya, keberhasilan penataan Besakih akan menjadi model pengelolaan kawasan suci lainnya di Bali, termasuk Pura Ulun Danu Batur di masa mendatang.

“Kalau sukses di Besakih, pola ini akan kita terapkan di pura-pura besar lainnya. Karena menjaga pura berarti menjaga peradaban Bali,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....