Imigrasi Singaraja Bentengi Calon PMI Jembrana dari TPPO

  • 15 Apr 2026 22:35 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jembrana -Kantor Imigrasi Kelas II TPI Singaraja bergerak cepat membentengi para calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kabupaten Jembrana dari ancaman sindikat perdagangan orang. Melalui sosialisasi intensif pada Rabu 15 April 2026, petugas mengumpulkan puluhan peserta dari empat Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) untuk membedah modus operandi kriminal yang kian beragam.

Kepala Subseksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Richard Jandres Tarigan, mengungkapkan bahwa iming-iming gaji besar dengan beban kerja ringan masih menjadi "senjata" utama pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Penyelundupan Manusia (TPPM). "Banyak adik-adik kita mencoba mencari rezeki tanpa menyadari mereka bisa menjadi korban. Kami memberikan edukasi agar mereka paham modus dan motifnya," ujar Richard.

Ia menambahkan, negara-negara seperti Kamboja, Thailand, dan kawasan Timur Tengah menjadi destinasi yang paling rawan. Di Kamboja, pelaku menyasar tenaga kerja bidang TI, sementara di Timur Tengah didominasi sektor domestik.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, pihak Imigrasi telah membentuk Desa Binaan di wilayah Buleleng dan sekitarnya. Program ini bertujuan untuk memberikan akses informasi valid kepada masyarakat. Memutus rantai keberangkatan non-prosedural (ilegal) dan menyediakan kanal konsultasi terkait keabsahan dokumen kerja.

Nailatul Aini, seorang calon PMI asal Jembrana yang berencana bekerja di Turki, mengaku sangat terbantu dengan edukasi ini. Menurutnya, pemahaman mengenai alur birokrasi yang benar adalah kunci keselamatan.

"Pelajaran berharga hari ini adalah pentingnya memiliki Kartu Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebagai tahap akhir yang legal sebelum berangkat," tutur Nailatul.

Meski hingga saat ini belum ada laporan resmi korban TPPO di wilayah kerja Imigrasi Singaraja sepanjang tahun berjalan, pihak otoritas tetap meminta masyarakat waspada terhadap segala bentuk tawaran yang tidak masuk akal di media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....