Perayaan Dua Hari Besar Keagamaan Pererat Toleransi di Bali

  • 17 Mar 2026 10:31 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Hari Suci Nyepi tahun baru saka 1948 akan dirayakan umat Hindu pada 19 Maret 2026. Kemudian akan disusul Umat Muslim merayakan Idulfitri 1447 Hijriah.

Perayaan dua hari besar keagamaan secara berdekatan itu menjadi momentum semakin mempererat toleransi antar umat beragama di Indonesia khususnya di Bali. Tokoh Hindu Nyoman Dayuh dikonfirmasi RRI.CO.ID di Denpasar, Selasa 17 Maret 2026 mengatakan, toleransi menjadi kunci menyatukan keberagaman, tidak terkecuali di Bali dengan mengedepankan Bhinneka Tunggal Ika.

Ia menjelaskan, Hari Suci Nyepi dan Idulfitri yang dirayakan dalam waktu berdekatan menjadi momentum langka sekaligus anugerah untuk semakin merekatkan hubungan persaudaraan antar umat Hindu dan Islam. Khusus untuk di Bali, falsafah hidup segilik seguluk selunglung sebayantaka atau bersatu dalam keberagaman dan Tat Twam Asi menjadi wujud komitmen menciptakan harmoni sosial, mencegah konflik, dan memperkuat persatuan dalam bingkai toleransi.

Nyoman Dayuh menekankan, dalam perayaan Nyepi, umat Hindu akan melakukan Catur Brata Penyepian, hening memberikan waktu bagi bumi beristirahat dari aktivitas masyarakat. Keheningan tersebut akan menciptakan keseimbangan spiritual, sosial, dan ekologis.

“Perayaan Hari Suci Nyepi dan Idulfitri yang jatuhnya berdekatan menyatukan keberagaman dengan semangat toleransi. Perayaan dua Hari Besar Keagamaan Naional ini menjadi momentum semakin mempererat toleransi antar umat beragama di Bali dengan falsafah hidup segilik seguluk selunglung sebayantaka atau bersatu dalam keberagaman dan Tat Twam Asi,” ujarnya.

Sementara, Tokoh Islam Mustofa Al Amin mengatakan, perayaan dua hari besar keagamaan yang berbeda secara bersamaan merupakan berkah. Menurutnya, ini menjadi momen kebersamaan dengan saling menghormati keyakinan masing – masing dengan mengedepankan toleransi dan harmoni keberagaman.

Ia menambahkan, Idulfitri dirayakan umat Islam sebagai hari kemenangan setelah menunaikan puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh. “Perayaan dua hari besar keagamaan yang berbeda secara bersamaan merupakan berkah yang harus disyukuri dengan mengedepankan toleransi dan harmoni keberagaman. Apalagi hubungan persaudaraan umat Hindu dan Muslim sudah terjalin sejak lama bahkan sebelum kemerdekaan dan ini harus terus dipupuk dan dijaga,” ujarnya.

Momentum dua Hari Besar Keagamaan Nasional yakni Nyepi dan Idulfitri yang dirayakan secara berdekatan semakin mempererat toleransi antar umat beragama di Indonesia. Toleransi menjadi landasan masyarakat hidup berdampingan secara damai sekaligus menjadikan perbedaan sebagai kekayaan dalam harmoni meskipun dengan latar belakang yang beragam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....