Menakar Dampak Penutup Selat Hormuz

  • 06 Mar 2026 06:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Badung - Konflik geopolitik di Timur Tengah kini memasuki babak baru dengan ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran. Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia karena dilewati oleh sekitar dua puluh persen pasokan minyak global.

Terhambatnya jalur tersebut membuat harga minyak mentah dunia melambung tinggi, yang secara otomatis mengancam stabilitas ekonomi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Capital Market Specialist, I Kadek Yoga Sumerta Dana kepada RRI.CO.ID, Rabu 4 Maret 2026 menjelaskan, kenaikan harga bahan bakar ini akan memicu efek domino, mulai dari naiknya biaya transportasi hingga melambungnya harga barang-barang di pasar.

Jika kondisi ini berlangsung lama, masyarakat harus bersiap menghadapi ancaman inflasi. “Di Iran itu ada namanya Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak yang dilewati 20 persen konsumsi dunia. Sekarang ditutup, otomatis pasokan berkurang dan harganya melambung tinggi. Kalau transportasi bahan bakarnya naik, otomatis barang-barang yang dijual juga ikut meningkat, sehingga cenderung akan meningkatkan inflasi ke depan," ujarnya.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia ini justru menjadi angin segar bagi bursa saham di sektor migas. Saham-saham seperti Elnusa atau ELSA dan Medco sempat melonjak drastis hingga sembilan puluh lima persen dalam dua bulan terakhir, meskipun saat ini mulai mengalami koreksi akibat aksi ambil untung oleh para investor.

“Ketika harga minyak meningkat, harga saham yang berkaitan dengan minyak langsung melambung tinggi, bahkan kemarin sempat gap up seperti ELSA dan MEDCO. Namun sekarang wajar kalau ada taking profit setelah kenaikan tinggi tersebut. Harapannya, pemerintah melalui Kementerian ESDM bisa menjaga stok nasional agar tidak terjadi kelangkaan di masyarakat.” Ungkapnya.

Mengingat ketersediaan cadangan minyak nasional yang dikabarkan terbatas, pemerintah diharapkan segera mengambil langkah strategis guna memastikan distribusi bahan bakar tetap lancar demi menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....