Anak Suputra, Dididik sejak dalam Kandungan
- 25 Feb 2026 07:37 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Sri Ari Wira Pertami, menegaskan bahwa pendidikan anak dalam ajaran Hindu harus dimulai sejak dalam kandungan, guna membentuk generasi suputra yang berbudi pekerti luhur dan berkarakter kuat. Hal tersebut disampaikannya dalam program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 24 Februari 2026.
Menurut Pertami, dalam ajaran Hindu, anak memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai pewaris sekaligus penyelamat orang tua dan leluhur. Karena itu, setiap keluarga diharapkan mampu mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, cerdas, serta mampu mengangkat martabat keluarga dan masyarakat.
Mengutip ajaran dalam Nitisastra, ia mengibaratkan kehadiran satu anak suputra seperti pohon berbunga harum yang mampu mengharumkan seluruh hutan. Analogi tersebut menegaskan betapa besar pengaruh seorang anak berkarakter baik dalam lingkungan keluarga.
Pertami menjelaskan, pendidikan anak dimulai sejak masa kehamilan. Orang tua, terutama ibu, perlu menjaga kesucian pikiran dan mengendalikan emosi, karena kondisi batin selama mengandung diyakini memengaruhi perkembangan dan karakter anak. “Masa kehamilan disebut sebagai masa ‘beryoga’ bagi kedua orang tua”, ungkapnya.
Setelah anak lahir, pola pendidikan disesuaikan dengan tahapan usia, di mana pada usia 0 hingga 6 tahun, anak diperlakukan penuh kasih sayang tanpa kekerasan. Usia 6 hingga 12 tahun, anak dibimbing dengan sabar sambil menumbuhkan rasa ingin tahu.
Memasuki usia 12 hingga 17 tahun, anak mulai diajarkan disiplin dan tanggung jawab. Sementara setelah usia 17 tahun, orang tua diharapkan mampu memposisikan diri sebagai sahabat agar tercipta komunikasi yang terbuka.
Lebih lanjut dijelaskan, pembentukan karakter anak berlandaskan nilai-nilai seperti abhyasa atau pembiasaan berbuat baik, tyaga atau ketulusan, santosha atau rasa syukur, serta keteguhan dalam menjalankan dharma. Orang tua juga diharapkan menjadi teladan serta membiasakan anak melaksanakan sembahyang dan doa secara teratur.
“Keberhasilan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai tersebut akan melahirkan anak suputra”, tegas Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gianyar tersebut. Ia menambahkan, kegagalan dalam pembinaan dapat berujung pada lahirnya kuputra, yakni anak yang tidak mampu membawa kebaikan bagi keluarga.
Melalui pendidikan berlandaskan ajaran agama sejak dini, diharapkan lahir generasi Hindu yang tidak hanya cerdas secara intelektual. Tetapi diharapkan terlahir genersi yang kuat secara spiritual dan bermoral luhur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....