Widya Aksara Tembus Pasar Polandia Berkat Lontar

  • 10 Feb 2026 08:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- UMKM Widya Aksara Denpasar, sukses memasarkan produk kerajinan lontar hingga ke pasar Polandia dan Jerman, sehingga mendapatkan kesempatan mengikuti ajang pameran Bulan Bahasa Bali 2026, di gedung Kriya Taman Budaya Art Centre Denpasar. Pemilik usaha Ni Komang Ari Pebriyani menjelaskan produknya tidak hanya diminati warga lokal, tetapi juga menjadi komoditas ekspor, untuk kebutuhan museum dan penelitian di luar negeri.

Komang Ari menjelaskan bisnis yang dirintis sejak tahun 2011 ini, menawarkan berbagai jasa mulai dari pengetikan aksara Bali, penerjemahan jawa kuno, hingga pembuatan prasasti. Usaha ini awalnya dikelola secara mandiri oleh Ari, setelah menyelesaikan pendidikan di jurusan Sastra Jawa Kuna di Universitas Udayana, guna melestarikan tradisi leluhur.

"Peminat kami berasal dari Bali maupun luar daerah seperti Jawa dan Kalimantan, bahkan produk kami pernah dikirim ke Polandia untuk kebutuhan museum di sana. Selain itu, kami juga melayani permintaan dari industri perfilman internasional seperti Netflix yang memerlukan naskah kuno serta souvenir otentik Bali," ujar Komang Ari di sela – sela pameran, Minggu, 1 Februari 2026.

Komang Ari menekankan bahwa kunci keberhasilan bisnis di bidang sastra ini, terletak pada kreativitas dan kemampuan beradaptasi, dengan kebutuhan pasar modern saat ini. Widya Aksara pun kini merambah sektor pariwisata, dengan menyediakan daftar menu hotel yang dihiasi lukisan prasi, serta aktivitas menulis lontar bagi wisatawan mancanegara.

Diungkapkan Komang Ari, proses pembuatan media lontar dilakukan secara tradisional, dengan teknik perendaman dan perebusan menggunakan biji jagung, sebagai indikator kematangan yang cukup rumit. Bahan baku ental harus melalui proses panjang selama satu bulan hingga benar-benar siap digunakan, sebagai media tulis yang berkualitas tinggi.

Peralatan pendukung seperti pengrupak atau pisau tulis, juga diproduksi secara khusus oleh suaminya sendiri, dengan mengatur sudut kemiringan sesuai kebutuhan konsumen. Teknik penghitaman tulisan tetap menggunakan kemiri yang disangrai secara manual, untuk menghasilkan warna hitam alami yang tahan lama dan tidak mudah pudar.

Komang Ari pun berharap para generasi muda tidak ragu untuk berbisnis di bidang budaya, karena peluang ekonomi dari kreativitas sastra ini sangatlah besar. Ia sendiri telah membuktikan bahwa dengan kolaborasi dunia modern, aksara Bali bisa tetap eksis, dan memberikan nilai tambah secara finansial.

Dijelaskan Komang Ari untuk harga, lontar yang kosong ukuran 30 cm biasanya yang paling dibeli, karena digunakan untuk siswa belajar menulis ( nyurat ) lontar, per lembarnya Rp.7.000, yang ukuran 30 cm, kemudian yang ukuran 35 cm, RP.8.000. Kemudian untuk yang tulisanhitungannya Rp.2.000 per senti. Jadi misalnya panjang lontar 30 senti dikali Rp.2.000, berarti Rp.60.000 ribu per lontar.

"Nah kalau misalkan ada yang laser itu hitungannya tentu berbeda, kalau ini yang lontar paper, yang dari kertas itu kisaran harganya Rp350.000-Rp.400.000. Per Naskah, Jadi satu cakep itu kalau sudah jadi Rp350.000-Rp400.000. Sementara itu untuk prasi sepertiprasi Ramayana yang sudah lumrah ini Rp. 500.000 kalau yang kecil-kecil, yang gede-gede ini palingan harganya sekitar Rp. 300.000-Rp. 500.000' ungkap Komang Ari.

Bagi masyarakat yang ingin melihat langsung karya - karya dari Widya Aksara bisa datang langsung stan Widya Aksara, di Gedung Kriya Taman Budaya Art Centre Denpsar. "Kemudian bisa juga datang langsung di jalan Gunung Agung, gang 2D nomor 5, jadi tokonya di dalam rumah, bisa berkunjung kapan pun bisa janjian ketemu di 087-861-874-688 atau di 087-861-657-181. Untuk instagramnya itu ada di widyaksara21" tutup Komang Ari

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....